Menjemput Bola untuk Ekspor UMKM

Senin, 27 Juli 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saatnya Sumatera Utara Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menyelenggarakan Pelatihan

“Trade can be a powerful engine for economic growth, poverty reduction, and development.”
World Bank

MEDAN. Berswarafakta.com Di tengah persaingan ekonomi global, ekspor tidak lagi sekadar dipahami sebagai aktivitas mengirim barang ke luar negeri. Ekspor telah menjadi ukuran daya saing suatu daerah. Ketika sebuah produk mampu menembus pasar internasional, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas barang, melainkan juga kredibilitas pelaku usaha, efektivitas birokrasi, dan kemampuan pemerintah membangun ekosistem perdagangan yang kompetitif. Senin. 27 Juni 2026.

Semangat itulah yang tercermin dalam Bimbingan Teknis Pembinaan dan Fasilitasi Calon Pelaku Usaha Ekspor Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Utara. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, asosiasi usaha, dan pelaku UMKM untuk mendiskusikan tantangan sekaligus peluang memperluas ekspor daerah.

Optimisme tentu memiliki dasar. Nilai ekspor Sumatera Utara pada 2025 mencapai USD12,396 miliar dengan neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus. Angka ini menunjukkan bahwa Sumatera Utara memiliki fondasi ekonomi yang kokoh. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menjaga nilai ekspor, melainkan memperbanyak pelaku usaha yang mampu memasuki pasar internasional.

Kopi menjadi contoh yang paling nyata. Kopi Mandailing dan Lintong telah lama dikenal di pasar dunia. Bahkan Serbia masih menawarkan peluang yang besar. Negara tersebut mengimpor sekitar 32 ribu ton kopi setiap tahun, sementara pangsa Indonesia baru sekitar 0,47 persen. Artinya, ruang ekspansi masih terbuka lebar apabila pelaku usaha mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Sayangnya, kualitas produk saja tidak cukup. Legalitas usaha, sertifikasi, standar keamanan pangan, dokumen ekspor, logistik, hingga akses terhadap pembeli merupakan mata rantai yang harus dipenuhi secara bersamaan. Banyak UMKM memiliki produk unggulan, tetapi berhenti sebelum melakukan ekspor pertama karena terhambat oleh proses yang rumit dan pendampingan yang belum berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, peserta Bimbingan Teknis, Eddy Andrian Purba, menyampaikan bahwa berbagai program pemerintah sebenarnya telah tersedia, tetapi masih berjalan secara parsial. Pelatihan dilakukan, sosialisasi diberikan, namun pendampingan yang mengawal pelaku usaha dari tahap persiapan hingga berhasil melakukan ekspor perdana belum menjadi sebuah sistem yang utuh.

Pandangan itu sejalan dengan kegelisahan yang juga saya rasakan. Selama ini birokrasi ekspor masih cenderung menunggu pelaku usaha datang mencari layanan. Pendekatan tersebut memang memenuhi fungsi administratif, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pemberdayaan. Pelaku usaha harus berpindah dari satu instansi ke instansi lain, mempelajari regulasi secara mandiri, mencari pembeli sendiri, hingga menyelesaikan berbagai persoalan teknis tanpa pendampingan yang memadai.

Paradigma pelayanan publik seharusnya bergerak ke arah yang berbeda: jemput bola. Pemerintah tidak cukup menjadi penyedia layanan, tetapi juga menjadi pendamping yang mengantarkan pelaku usaha sejak tahap persiapan hingga mampu berdiri sendiri sebagai eksportir.

Ibarat pertandingan sepak bola, pemerintah tidak cukup hanya menjadi penjaga gawang yang menunggu bola datang. Pemerintah harus menjadi satu kesatuan tim yang mengalirkan bola dari lini belakang, membuka ruang, melewati setiap hambatan, hingga akhirnya mencetak gol. Gol itu adalah lahirnya eksportir-exportir baru dari Sumatera Utara.

Karena itu, sudah saatnya Sumatera Utara mempertimbangkan pembentukan One Stop Export Service, yakni layanan ekspor terpadu yang mengintegrasikan seluruh kebutuhan pelaku usaha dalam satu ekosistem. Di dalamnya hadir Dinas Perindustrian dan Perdagangan, DPMPTSP, Bea dan Cukai, Kementerian Perdagangan, Karantina, lembaga sertifikasi, lembaga pembiayaan, perbankan, perguruan tinggi, serta asosiasi dunia usaha. Pelaku UMKM tidak lagi dipaksa berpindah dari satu meja ke meja lain, tetapi memperoleh pendampingan yang menyeluruh hingga produknya benar-benar memasuki pasar internasional.

Model seperti ini bukan hanya menyederhanakan birokrasi. Ia menghadirkan kepastian layanan, mempercepat proses, membangun kepercayaan pelaku usaha, sekaligus meningkatkan peluang lahirnya eksportir baru. Pada akhirnya, keberhasilan ekspor tidak diukur dari banyaknya regulasi atau pelatihan yang diselenggarakan, melainkan dari bertambahnya jumlah UMKM yang berhasil menembus pasar global.

Aspirasi tersebut juga disampaikan oleh generasi muda Sumatera Utara. Mereka tidak meminta perlakuan istimewa, melainkan menginginkan sistem yang bekerja secara terpadu dan berpihak pada kemudahan berusaha. Harapan ini patut menjadi perhatian karena masa depan ekspor Indonesia berada di tangan generasi yang hari ini sedang belajar menjadi eksportir.

Ekspor bukan sekadar urusan statistik perdagangan. Di balik setiap kontainer yang berlayar ke luar negeri terdapat petani yang memperoleh nilai tambah, UMKM yang naik kelas, tenaga kerja yang terserap, serta daerah yang menikmati pertumbuhan ekonomi baru. Ketika kopi Mandailing atau Lintong diseduh di Beograd, sesungguhnya yang ikut hadir bukan hanya aroma kopi, tetapi juga reputasi Sumatera Utara dan Indonesia.

Bimbingan teknis yang telah diselenggarakan layak diapresiasi sebagai langkah awal. Namun, langkah berikutnya harus lebih berani: membangun ekosistem yang benar-benar mendampingi, membuka akses pasar, dan memastikan pelaku usaha berhasil melakukan ekspor pertama. Sebab keberhasilan ekspor tidak lahir dari banyaknya seminar atau pelatihan, melainkan dari semakin banyaknya UMKM yang mampu bertahan dan bersaing di pasar dunia.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan publik bukanlah seberapa lengkap layanan tersedia di balik meja birokrasi, melainkan seberapa jauh pemerintah bersedia hadir menjemput pelaku usaha dan mengantarkan mereka hingga berhasil memasuki pasar global.

(Ir.Martin Sembiring.ST.MT)

Berita Terkait

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik
Rapat Koordinasi HIPPI Kabupaten Pesawaran Perkuat Sinergi dan Semangat Pengusaha Pribumi
Bupati Batu Bara Targetkan Gambus Laut dan Lubuk Cuik Jadi Sentra Cabai Varietas Unggul
Bupati Batu Bara Dorong Ketahanan Pangan, Panen Raya Lumbung Pangan BAZNAS Bukti Sinergi Pemerintah dan Petani
Nagan Raya Fair 2026 Resmi Dibuka, Bupati TRK Tegaskan Investasi untuk Ciptakan Lapangan Kerja
Ketahanan Ekonomi Menuntut Keberanian Berbenah
Diduga Gudang Pengemasan Minyak Goreng di Ajamu Masih Beroperasi, Masyarakat Minta Pemeriksaan Resmi
Dorong Penerapan Pertanian Modern, Bupati Batu Bara Tinjau Persawahan PM-AAS di Desa Suka Raja
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 18:00 WIB

Menjemput Bola untuk Ekspor UMKM

Senin, 27 Juli 2026 - 08:10 WIB

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:32 WIB

Rapat Koordinasi HIPPI Kabupaten Pesawaran Perkuat Sinergi dan Semangat Pengusaha Pribumi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:02 WIB

Bupati Batu Bara Targetkan Gambus Laut dan Lubuk Cuik Jadi Sentra Cabai Varietas Unggul

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:45 WIB

Bupati Batu Bara Dorong Ketahanan Pangan, Panen Raya Lumbung Pangan BAZNAS Bukti Sinergi Pemerintah dan Petani

Berita Terbaru