Kecamatan Punduh Pidada, Berswarafakta.com – Tokoh adat dan masyarakat di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, mengeluhkan dampak aktivitas tambang galian C yang dikelola oleh PT Yudistira di Desa Sukarame. Aktivitas tambang tersebut dinilai menimbulkan kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, hingga keresahan sosial di tengah masyarakat.
Penyimbang Adat Marga Pedada, Basri Saleh, mengatakan keberadaan perusahaan tambang sejauh ini belum memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar maupun pihak adat.
“Perusahaan seharusnya membawa dampak positif untuk masyarakat, tetapi yang dirasakan justru banyak kerugian,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Menurut Basri, aktivitas tambang telah menyebabkan kerusakan lingkungan di tiga desa, yakni Desa Sukarame, Desa Rusaba, dan Desa Kota Jawa. Warga mengeluhkan polusi debu, kebisingan alat berat, hingga kerusakan jalan akibat kendaraan tambang yang melintas di jalan umum.
Selain itu, masyarakat juga khawatir terhadap potensi longsor di sekitar area tambang, terutama karena lokasi tambang berada dekat dengan Puskesmas Punduh Pidada.
“Pohon-pohon sudah banyak digunduli dan tanah digali menggunakan alat berat. Warga khawatir kondisi itu bisa memicu longsor,” kata Basri.
Aktivitas kapal tongkang pengangkut material tambang juga disebut berdampak terhadap ekosistem laut di sekitar dermaga perusahaan. Warga menilai lalu lintas kapal dan penimbunan laut untuk pembangunan dermaga berpotensi merusak terumbu karang serta mengganggu aktivitas nelayan.
Seorang warga berinisial W mempertanyakan legalitas reklamasi atau penimbunan laut yang dilakukan perusahaan untuk pembangunan dermaga tambang.
“Dermaga itu ada izinnya atau tidak? Karena masyarakat nelayan merasa dirugikan dan terumbu karang ikut rusak,” ujarnya.
Tidak hanya persoalan lingkungan, warga juga mengeluhkan minimnya pemberdayaan tenaga kerja lokal serta belum adanya realisasi program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan.
Basri mengungkapkan sebagian besar pekerja justru didatangkan dari luar daerah, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.
“Kami sudah berkali-kali mempertanyakan CSR, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” tambahnya.
Keluhan lain yang disampaikan warga ialah berkurangnya daya listrik di permukiman sejak aktivitas tambang berjalan. Warga mengaku lampu rumah menjadi redup dan sejumlah peralatan elektronik mengalami gangguan.
Masyarakat berharap pihak perusahaan dapat lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan sosial di sekitar wilayah tambang, termasuk membuka ruang komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat adat dan warga setempat.
(Hairuddin)






