Medan – Berswarafakta.com
Puluhan warga Jalan Perwira II, Lingkungan IX, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, mendatangi Kantor Wali Kota Medan pada Kamis (30/4) untuk menyampaikan penolakan terhadap penunjukan M Salim sebagai Kepala Lingkungan (Kepling) IX.
Sekitar 25 warga yang hadir menyuarakan tuntutan agar Pemerintah Kota Medan segera mencopot M Salim dari jabatan tersebut. Mereka mengaku tidak keberatan siapa pun yang menjabat sebagai Kepling, asalkan bukan M Salim.
“Kami minta Wali Kota Medan mencopot M Salim. Siapa pun kami terima, asal jangan dia,” tegas salah seorang warga, Salbiah.
Warga mengaku telah berada di Kantor Wali Kota sejak pukul 09.00 WIB, namun baru diterima sekitar pukul 11.45 WIB oleh staf Bagian Tata Pemerintahan (Tapem). Dalam pertemuan itu, pihak Tapem berjanji akan menyampaikan aspirasi warga kepada pimpinan.
Tak hanya itu, warga juga diminta menandatangani petisi penolakan. Mereka turut mengungkap adanya dugaan intimidasi.
“Kami diancam tidak akan mendapat bantuan jika menolak,” ujar Salbiah.
Warga berharap Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, segera menindaklanjuti aspirasi tersebut. Mereka bahkan mengancam akan kembali menggelar aksi dengan massa lebih besar jika tuntutan tidak dipenuhi.
Aksi Sebelumnya Sempat Ricuh
Penolakan terhadap M Salim sebelumnya juga disuarakan oleh warga, khususnya emak-emak, saat mendatangi Kantor Camat Medan Timur di Jalan HM Said. Aksi tersebut sempat memanas karena camat tidak segera menemui massa yang telah menunggu selama lebih dari tiga jam.
Setelah akhirnya diperbolehkan masuk ke aula, warga menyampaikan penolakan secara langsung.
“Kami tidak mau M Salim jadi Kepling lagi. Dia tidak amanah dan mengecewakan warga,” kata Irmawati.
Warga lainnya, Rini, menyebut bahwa calon lain, Endang Priska, justru memperoleh dukungan sekitar 350 suara dari masyarakat.
“Selama menjabat, Endang dikenal humanis dan tidak memungut biaya dalam pengurusan administrasi,” jelasnya.
Sebaliknya, warga menilai kinerja M Salim saat menjabat pada periode 2021–2022 buruk.
“Urusan surat selalu berbayar, bantuan tidak sampai ke warga, bahkan diduga ditimbun. Keluhan masyarakat juga tidak pernah didengar,” tambah Rini.
Dugaan Kejanggalan dan Isu Suap
Warga juga menyoroti dugaan adanya kejanggalan dalam proses pengangkatan Kepling IX. Mereka mencurigai adanya praktik tidak transparan hingga isu dugaan suap.
Namun, Camat Medan Timur, Fernanda, menyatakan bahwa pengangkatan Kepling telah melalui mekanisme yang berlaku dan menilai M Salim lebih layak dibandingkan kandidat lainnya.
Pernyataan tersebut justru memicu reaksi keras dari warga yang hadir. Mereka menilai keputusan tersebut bersifat subjektif dan diduga telah diatur sebelumnya.
Aksi pun diwarnai teriakan penolakan sebelum warga akhirnya meninggalkan lokasi dengan rasa kecewa.
(Selamet /Tiem)






