MEDAN. BerswaraFakta.com Di tengah meningkatnya polarisasi pandangan dan kecenderungan masyarakat mempertahankan pendapat masing-masing, mediator Martin Sembiring mengajak publik untuk lebih mengedepankan perdamaian daripada sekadar memenangkan perdebatan.
Melalui tajuk opini berjudul “Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai”, Martin menegaskan bahwa kebenaran dan keadilan merupakan nilai yang selalu dicari manusia. Namun, menurutnya, kedua hal tersebut tidak pernah dapat dipahami secara mutlak dari sudut pandang manusia.
“Yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Demikian pula, apa yang dirasakan adil oleh satu pihak dapat dipandang berbeda oleh pihak lainnya,” tulis Martin dalam opininya.
Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki akal, hati, dan nurani untuk menilai suatu persoalan. Akan tetapi, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam menentukan kebenaran yang sempurna. Menurutnya, kebenaran sejati dan keadilan yang mutlak merupakan otoritas Tuhan.
Pengalaman sebagai mediator, lanjut Martin, menunjukkan bahwa hampir setiap pihak yang datang dalam proses mediasi meyakini dirinya berada di posisi yang benar. Jika mediator ikut terjebak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, maka tujuan mediasi akan sulit tercapai.
Karena itu, ia menilai hakikat mediasi bukanlah menetapkan pemenang, melainkan membantu para pihak menemukan titik temu yang mampu mengakhiri konflik melalui kesepakatan bersama. Pandangan ini sejalan dengan prinsip mediasi yang menempatkan mediator sebagai pihak netral yang memfasilitasi dialog menuju penyelesaian yang disepakati para pihak.
Martin juga menekankan pentingnya belas kasih sebagai dasar membangun perdamaian. Menurutnya, belas kasih lahir dari cinta dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia. Ketika kasih memudar, manusia cenderung lebih mengutamakan ego, pembalasan, dan pembenaran diri.
Ia berpandangan bahwa menjadi pembawa damai bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan dalam mengendalikan ego demi kepentingan bersama.
“Hikmat seseorang bukan diukur dari seberapa banyak perdebatan yang dimenangkannya, melainkan dari seberapa banyak kedamaian yang berhasil diwujudkannya,” tulisnya.
Dalam penutup opininya, Martin mengajak masyarakat membangun budaya saling mendengar, saling memahami, dan menghormati perbedaan sebagai fondasi kehidupan yang harmonis. Menurutnya, masyarakat yang damai tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling benar, tetapi oleh orang-orang yang bersedia mengutamakan dialog dan kemaslahatan bersama.
Ia menyimpulkan bahwa damai sejahtera bukan sekadar tujuan akhir kehidupan bermasyarakat, melainkan jalan yang membawa manusia semakin dekat kepada Sang Sumber Kebenaran dan Keadilan.
(Ir.Martin Sembiring.ST.MT)






