JAKARTA. Berswarafakta.com Praktisi mediasi Martin Sembiring, Cand. Mediator M. Agung, mengajak generasi milenial dan generasi penerus bangsa untuk lebih mengedepankan nilai damai sejahtera dibandingkan keinginan membuktikan diri sebagai pihak yang paling benar dalam setiap perbedaan pendapat maupun sengketa. Rabu.05 Agustus 2026.
Gagasan tersebut disampaikan Martin melalui sebuah tulisan reflektif yang menyoroti kecenderungan masyarakat di era media sosial yang semakin sering mempertentangkan kebenaran hingga memicu konflik di lingkungan keluarga, dunia kerja, organisasi, maupun ruang publik.
Menurut Martin, manusia tidak memiliki otoritas untuk mengklaim kebenaran maupun keadilan yang bersifat mutlak. Ia merujuk pada ajaran Kristiani bahwa kebenaran sejati berasal dari Tuhan, sebagaimana perkataan Yesus Kristus, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.”
“Manusia dipanggil bukan untuk menjadi pemilik kebenaran yang mutlak, melainkan menjadi pembawa damai sejahtera bagi sesama,” tulis Martin.
Ia juga menilai bahwa keadilan yang sempurna merupakan sifat ilahi, sedangkan manusia hanya dapat berupaya mendekatinya melalui hati nurani, hikmat, dan kebijaksanaan.
Dalam tulisannya, Martin mencontohkan berbagai persoalan yang sering muncul dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, banyak pasangan lebih sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dibandingkan menjaga keutuhan hubungan.
Ia berpendapat bahwa tujuan perkawinan bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan membangun kehidupan yang harmonis melalui komunikasi, saling menghormati, dan saling mengampuni.
Pandangan serupa juga diterapkannya pada dunia kerja dan sistem hukum. Martin menilai bahwa persepsi mengenai keadilan sering kali berbeda sesuai sudut pandang masing-masing pihak, sementara hukum merupakan instrumen yang dibuat manusia untuk mengatur kehidupan bersama melalui aturan, pembuktian, dan prosedur.
Karena itu, menurutnya, hukum merupakan upaya manusia untuk mendekati keadilan, bukan representasi keadilan yang bersifat mutlak.
Martin selanjutnya mengaitkan gagasan tersebut dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila keempat yang menekankan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
Ia menilai para pendiri bangsa menyadari bahwa keputusan terbaik lahir melalui musyawarah yang dilandasi hikmat, bukan melalui klaim sepihak mengenai kebenaran.
Sebagai calon mediator, Martin juga menjelaskan bahwa tugas mediator bukan menentukan pihak yang benar atau salah, melainkan membantu para pihak membangun komunikasi, meluruskan kesalahpahaman, serta menemukan kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Menurutnya, keberhasilan mediasi diukur dari terciptanya perdamaian, bukan kemenangan salah satu pihak.
Di akhir tulisannya, Martin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mengutamakan dialog, musyawarah, dan penyelesaian konflik secara damai.
“Lebih mulia menjadi pribadi yang menghadirkan damai daripada menjadi pribadi yang selalu ingin memenangkan sengketa,” tulisnya.
Melalui pesan tersebut, Martin berharap nilai damai sejahtera, hikmat, dan kebijaksanaan semakin menjadi budaya dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.
(Ir.Martin Sembiring.ST.MT)






