Tokoh Senior Dinilai Perlu Rangkul Kritik Demi Persatuan Bangsa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, BerswaraFakta.Com-Wacana mengenai pentingnya kepemimpinan yang mampu merangkul kritik kembali mencuat dalam diskursus kebangsaan. Sejumlah kalangan menilai tokoh nasional semestinya mengedepankan dialog dan pembinaan terhadap generasi muda yang kritis, bukan membangun jarak komunikasi.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Martin Sembiring, Pamong Pancasila, dalam sebuah opini yang menyoroti pentingnya karakter negarawan dalam menjaga persatuan nasional di tengah dinamika politik yang berkembang.

Menurut Martin, seorang negarawan ideal adalah sosok yang menempatkan kepentingan bangsa di atas ego maupun kepentingan pribadi. Ia menilai kritik dari anak bangsa seharusnya dipandang sebagai bagian dari energi demokrasi yang perlu diarahkan secara bijak.

“Seorang negarawan semestinya melakukan pembinaan terhadap kritik, bukan memosisikan pengkritik sebagai musuh,” ujarnya.

Dalam opininya, Martin menyinggung dinamika komunikasi antara Jusuf Kalla dengan sejumlah tokoh kritis seperti Ahmad Ali dan GN. Ia menilai ruang dialog tetap penting dibuka demi menjaga semangat persatuan nasional.

Martin juga mencontohkan gaya kepemimpinan Prabowo Subianto yang dinilai memiliki kemampuan merangkul berbagai kelompok, termasuk pihak yang sebelumnya berbeda pandangan politik.

Menurutnya, pendekatan dialogis dan semangat gotong royong merupakan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan politik nasional.

“Inisiatif mediasi dan komunikasi antartokoh seharusnya menjadi jalan memperkuat kebangsaan, bukan justru ditutup,” katanya.

Lebih lanjut, Martin menegaskan bahwa kepemimpinan nasional bukan hanya diukur dari lamanya seseorang berada dalam kekuasaan, tetapi dari kemampuannya menyatukan berbagai perbedaan di tengah masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai ruang bersama yang inklusif, serta bukan alat untuk memperuncing perbedaan politik.

  • Dalam tulisannya, Martin turut merekomendasikan sejumlah literatur kebangsaan seperti Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno dan Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta sebagai bahan refleksi mengenai persatuan, demokrasi, dan moralitas politik nasional.

Berita Terkait

Bimtek Laga Perubahan Partai NasDem Se-Lampung Tekankan Peran Strategis Parpol Bangun Karakter Bangsa
GNTP Dorong Pemerintah Perkuat Transparansi dan Evaluasi Kesejahteraan Pejabat Publik
GNTP Ucapkan Selamat dan Sukses Muktamar NU ke-35, Berharap Lahir Kepengurusan yang Mandiri dan Bersih
Mahasiswa, Demonstrasi Agustus 2026, dan Kedaulatan Bangsa
Budi Arie Tegaskan Korupsi Harus Diberantas dari Lingkaran Elit Kekuasaan
Rekam Jejak Politik Prabowo: Dari 1998, Rekonsiliasi 2019 hingga Agenda Pemerintahan
Semarak HUT RI ke-81, Personel Brimob Batalyon C Pelopor Gelar Aneka Perlombaan Bersama Bhayangkari dan Anak-anak
Wamen Transmigrasi Viva Yoga Ajak Peduli Korban Gempa NTT di Tengah Pesta Rakyat HUT RI
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:35 WIB

Bimtek Laga Perubahan Partai NasDem Se-Lampung Tekankan Peran Strategis Parpol Bangun Karakter Bangsa

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:20 WIB

GNTP Dorong Pemerintah Perkuat Transparansi dan Evaluasi Kesejahteraan Pejabat Publik

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:47 WIB

GNTP Ucapkan Selamat dan Sukses Muktamar NU ke-35, Berharap Lahir Kepengurusan yang Mandiri dan Bersih

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:08 WIB

Mahasiswa, Demonstrasi Agustus 2026, dan Kedaulatan Bangsa

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:42 WIB

Budi Arie Tegaskan Korupsi Harus Diberantas dari Lingkaran Elit Kekuasaan

Berita Terbaru