BATU BARA, BerswaraFakta.Com-Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku menjadi sasaran aksi unjuk rasa puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan online di Kabupaten Batu Bara, Selasa (11/05/2026).

Aksi yang mengatasnamakan “Wartawan Batu Bara” itu digelar sebagai bentuk protes terhadap dugaan intimidasi terhadap jurnalis serta berbagai persoalan yang disebut terjadi di dalam lapas.

Sekitar 60 insan pers menyampaikan orasi secara bergantian di depan lapas. Mereka menuntut keterbukaan informasi publik dan meminta pihak lapas menghormati kebebasan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Dalam orasinya, massa menyoroti dugaan adanya pembatasan terhadap kerja wartawan, termasuk anggapan bahwa pemberitaan terkait aktivitas di dalam lapas harus memperoleh izin tertentu. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip kebebasan pers dan keterbukaan informasi publik.
Selain itu, massa aksi juga menyoroti lemahnya sistem keamanan lapas yang diduga menjadi penyebab adanya tahanan melarikan diri. Mereka turut menyinggung dugaan praktik ilegal di dalam lapas, seperti peredaran narkotika, penggunaan telepon genggam ilegal oleh warga binaan, dugaan praktik wartel modus per menit, rekening penampung transaksi napi, hingga dugaan jual beli kamar dan fasilitas tertentu.
Perwakilan Wartawan Batu Bara, Nando Sagala, menegaskan aksi tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap institusi negara, melainkan bentuk kepedulian masyarakat sipil terhadap dugaan penyimpangan yang dinilai merusak marwah hukum dan keadilan.
“Jika penjara justru berubah menjadi ruang aman bagi jaringan kejahatan, maka publik berhak mempertanyakan siapa sebenarnya yang sedang dikendalikan,” tegasnya saat menyampaikan orasi.
Massa aksi juga mendesak Yusril Ihza Mahendra untuk turun langsung melakukan investigasi menyeluruh terhadap berbagai dugaan penyimpangan di Lapas Labuhan Ruku.
Selain itu, mereka meminta Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengusut dugaan kematian seorang narapidana secara transparan, termasuk membuka rekam medis, kronologi kejadian, dan pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab.
Tak hanya itu, massa juga meminta evaluasi terhadap pimpinan lapas dan mendesak pencopotan kepala lapas sebagai bentuk tanggung jawab moral dan administratif atas berbagai persoalan yang dinilai terus berulang.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan mendapat perhatian masyarakat sekitar yang menyaksikan jalannya penyampaian aspirasi.
Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Hamdi Hasibuan, menyatakan pihaknya akan memperbaiki komunikasi dengan insan pers serta memperketat sistem keamanan di lingkungan lapas.
“Kami akan memperbaiki komunikasi yang baik terhadap pers atau media dan menjalin hubungan yang baik. Terkait keamanan, kami juga akan memperketat sistem pengamanan di dalam lapas,” ujarnya.
- (Ferdinand Nainggolan)






