MEDAN. Berswarafakta.com Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, perang dagang, tekanan inflasi, serta perlambatan pertumbuhan dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah perekonomian nasional benar-benar memiliki daya tahan yang kuat, atau justru masih menyimpan berbagai kerentanan yang belum sepenuhnya disadari?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus dalam Diskusi Nasional bertajuk “Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan?” yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) bekerja sama dengan Yayasan Tarumanagara. Forum ini menghadirkan sejumlah ekonom dengan perspektif yang beragam, namun bermuara pada satu kesimpulan yang sama: Indonesia memiliki modal ketahanan yang cukup baik, tetapi keberlanjutan kekuatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kualitas kebijakan yang dijalankan di dalam negeri.
Ekonom Piter Abdullah mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi makro merupakan modal penting yang harus terus dijaga. Namun, stabilitas tersebut tidak boleh menimbulkan rasa aman yang berlebihan sehingga mengurangi kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang masih mengintai.
Sementara itu, Hendri Saparini menekankan bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup hanya ditopang oleh indikator makroekonomi yang positif. Menurutnya, transformasi struktural, penguatan industri nasional, serta peningkatan nilai tambah di sektor produksi merupakan prasyarat utama untuk membangun daya tahan ekonomi yang berkelanjutan.
Anthony Budiawan menggarisbawahi pentingnya disiplin fiskal, transparansi pengelolaan keuangan negara, serta kewaspadaan terhadap risiko pelemahan nilai tukar dan peningkatan utang pemerintah. Di sisi lain, Wijayanto Samirin menempatkan kredibilitas kebijakan, kepastian hukum, dan kualitas institusi sebagai fondasi utama dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus menciptakan iklim usaha yang sehat.
Keempat pandangan tersebut saling melengkapi. Turbulensi ekonomi global memang berada di luar kendali Indonesia, tetapi besarnya dampak yang ditimbulkan sangat ditentukan oleh kekuatan fondasi ekonomi domestik. Dengan demikian, ancaman terbesar sesungguhnya bukan hanya berasal dari faktor eksternal, melainkan juga dari berbagai kelemahan internal yang belum sepenuhnya dibenahi.
Dalam perspektif dunia usaha, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Khairul Mahali, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan angka-angka makro. Kebijakan ekonomi harus diarahkan pada penguatan sektor produksi, peningkatan daya saing industri nasional, perluasan ekspor bernilai tambah, serta penciptaan iklim usaha yang memberikan kepastian bagi para pelaku ekonomi.
Menurutnya, ketahanan ekonomi nasional hanya dapat diwujudkan melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menghadapi perubahan lanskap ekonomi global. Reformasi struktural, tata kelola pemerintahan yang baik, keberpihakan terhadap sektor-sektor produktif, serta konsistensi kebijakan merupakan fondasi agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi krisis, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang semakin kompetitif.
Dialog nasional tersebut memberikan pelajaran penting bahwa optimisme tetap diperlukan, namun optimisme harus dibangun di atas keberanian menghadapi realitas. Ketahanan ekonomi tidak lahir dari slogan atau narasi yang menenangkan, melainkan dari kebijakan yang konsisten, institusi yang kredibel, disiplin fiskal, industrialisasi yang berkelanjutan, serta kemauan politik untuk terus melakukan pembenahan.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa besar badai global yang datang, melainkan oleh seberapa kokoh fondasi yang berhasil dibangun di dalam negeri. Di situlah letak tantangan sekaligus peluang Indonesia dalam mewujudkan cita-cita menjadi negara maju menuju Indonesia Emas 2045.
Oleh Martin Sembiring






