Valanth Company Tawarkan Skema Zero Capex PLTS Rooftop untuk Industri Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Skema tanpa investasi awal dinilai dapat menjadi alternatif bagi industri untuk memanfaatkan energi surya sekaligus menekan biaya listrik

JAKARTA. Berswarafakta.com Valanth Company memperkenalkan program Zero Capex PLTS Rooftop sebagai alternatif bagi sektor industri di Indonesia yang ingin memanfaatkan energi surya tanpa menyediakan investasi awal untuk pembangunan pembangkit.

Program tersebut dipaparkan dalam pertemuan daring melalui Zoom pada Kamis (27/8/2026) pukul 20.00 WIB. Sekitar 75 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pemaparan mengenai konsep kerja sama, aspek teknis, tahapan implementasi, serta potensi keekonomian PLTS Rooftop.

Dalam pemaparannya, Valanth Company menawarkan skema kerja sama dengan jangka waktu 15, 20, hingga 25 tahun. Melalui skema Zero Capex, pembangunan sistem PLTS dilakukan oleh developer sehingga pelanggan tidak perlu mengeluarkan modal investasi pada tahap awal.

Salah satu potensi manfaat yang disampaikan adalah peluang memperoleh biaya energi sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan biaya listrik konvensional.

Namun, besaran penghematan tersebut bersifat estimasi dan tidak dapat diberlakukan secara seragam untuk seluruh proyek. Nilai keekonomian akan bergantung pada sejumlah faktor, antara lain profil konsumsi listrik, kapasitas PLTS, kondisi rooftop, lokasi, desain sistem, struktur tarif listrik, biaya pemeliharaan, serta ketentuan kontrak.

Rooftop Dimanfaatkan sebagai Sumber Energi

Konsep Zero Capex memungkinkan perusahaan memanfaatkan atap bangunan sebagai lokasi pemasangan modul surya tanpa harus menanggung biaya pembangunan sistem di awal.

Developer bertanggung jawab terhadap pengembangan sistem berdasarkan hasil kajian teknis dan komersial. Selama masa kerja sama, pemeliharaan sistem dilakukan sesuai ruang lingkup dan ketentuan yang dituangkan dalam kontrak.

Sementara itu, mekanisme kepemilikan maupun serah terima aset setelah masa kerja sama berakhir mengikuti kesepakatan para pihak.

Secara teknis, energi matahari dikonversi melalui modul surya dan inverter sebelum digunakan dalam sistem kelistrikan pelanggan.

Matahari → Modul Surya → Inverter → Sistem Kelistrikan → Beban Industri

Skema tersebut dinilai berpotensi memberikan manfaat terutama bagi industri yang memiliki konsumsi listrik tinggi pada siang hari, ketika PLTS Rooftop dapat menghasilkan listrik.

Konfigurasi Sistem Disesuaikan dengan Kebutuhan

Valanth Company menjelaskan bahwa konfigurasi PLTS dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan.

Sistem On-Grid menjadi salah satu konfigurasi utama karena terhubung dengan instalasi kelistrikan pelanggan. Namun, berdasarkan hasil kajian teknis, sistem juga dapat dikembangkan menjadi Off-Grid maupun Hybrid, termasuk dengan dukungan sistem penyimpanan energi.

Penentuan konfigurasi tidak dapat dilakukan secara seragam. Profil beban, kebutuhan kontinuitas listrik, kondisi jaringan, kapasitas pembangkitan, karakteristik lokasi, serta aspek teknis dan ekonomi menjadi pertimbangan dalam menentukan desain sistem.

Karena itu, setiap calon proyek perlu melalui proses kajian sebelum kapasitas dan konfigurasi PLTS ditetapkan.

Empat Tahapan Implementasi

Dalam pertemuan tersebut, Valanth Company menjelaskan sejumlah tahapan awal yang perlu dilalui calon pelanggan.

Tahap pertama adalah pengumpulan data awal melalui Form A1 dan A2. Data tersebut digunakan untuk memahami kebutuhan energi serta kondisi awal calon pengguna.

Tahap berikutnya adalah technical meeting untuk membahas kebutuhan listrik, profil beban, potensi kapasitas PLTS, konfigurasi sistem, dan konsep kerja sama.

Setelah itu dilakukan survei lokasi. Pemeriksaan mencakup kondisi rooftop, struktur bangunan, instalasi kelistrikan, ruang peralatan, jalur kabel, serta aspek teknis lain yang diperlukan.

Apabila hasil kajian menunjukkan kelayakan dan para pihak mencapai kesepakatan, proses dilanjutkan ke tahap kontrak dan implementasi, yang meliputi instalasi, pengujian, commissioning, hingga pengoperasian sistem.

Pemilihan Teknologi Berdasarkan Spesifikasi

Dalam pemaparan program, sejumlah merek modul surya turut disebut, antara lain Sunpro Power, LONGi Solar, dan Jinko Solar.

Namun, pemilihan modul dan komponen PLTS idealnya tidak hanya didasarkan pada merek. Spesifikasi teknis, efisiensi, keandalan, sertifikasi dan standar yang berlaku, garansi, kesesuaian dengan desain, ketersediaan produk, serta layanan purna jual menjadi sejumlah aspek yang perlu dipertimbangkan.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan teknis dan keekonomian masing-masing proyek.

Minat terhadap Pembiayaan PLTS Tanpa Investasi Awal

Keikutsertaan sekitar 75 peserta dari berbagai daerah menunjukkan adanya perhatian terhadap alternatif pembiayaan PLTS yang tidak memerlukan investasi awal dari pelanggan.

Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme Zero Capex, persyaratan awal, tahapan survei, kebutuhan data, desain sistem, serta aspek komersial yang perlu dikaji sebelum implementasi.

Bagi sektor industri, model pembiayaan seperti ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan energi terbarukan tetapi tetap mempertimbangkan keterbatasan atau prioritas penggunaan modal.

Meski demikian, calon pengguna perlu melakukan kajian teknis, analisis keekonomian, pemeriksaan kondisi bangunan dan instalasi listrik, serta evaluasi aspek kontraktual dan regulasi sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, keberhasilan PLTS Rooftop tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit. Kualitas desain, pemilihan teknologi, instalasi, pemeliharaan, keandalan operasi, serta transparansi hubungan kontraktual antara developer dan pelanggan juga menjadi faktor penting.

Skema Zero Capex PLTS Rooftop pun dapat menjadi salah satu opsi yang patut dikaji industri Indonesia dalam upaya memanfaatkan energi bersih sekaligus meningkatkan efisiensi biaya energi.

Oleh: Martin Sembiring, S.T., M.T., C.ES., C.Med.

Berita Terkait

Blackout Sumatera Picu Sorotan terhadap Pemeliharaan Infrastruktur dan Tata Kelola PLN
TAJUK RENCANA Tumbangnya Menara PLN dan Urgensi Penguatan Tata Kelola Utilitas Publik
Kepastian Pasokan Solar Industri B40 Dinilai Penting bagi Kelancaran Operasional Sektor Industri dan Maritim
Listrik Se-Sumatera Padam, Pakar Soroti Kelemahan Predictive Maintenance PLN
Diduga Terjadi “Permainan” BBM Bersubsidi di SPBU Aek Nabara, Pertalite Cepat Habis dan Disinyalir Dikirim ke Penimbun
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:31 WIB

Valanth Company Tawarkan Skema Zero Capex PLTS Rooftop untuk Industri Indonesia

Senin, 8 Juni 2026 - 08:51 WIB

Blackout Sumatera Picu Sorotan terhadap Pemeliharaan Infrastruktur dan Tata Kelola PLN

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:04 WIB

TAJUK RENCANA Tumbangnya Menara PLN dan Urgensi Penguatan Tata Kelola Utilitas Publik

Senin, 1 Juni 2026 - 22:38 WIB

Kepastian Pasokan Solar Industri B40 Dinilai Penting bagi Kelancaran Operasional Sektor Industri dan Maritim

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:24 WIB

Listrik Se-Sumatera Padam, Pakar Soroti Kelemahan Predictive Maintenance PLN

Berita Terbaru