MEDAN, BerswaraFakta.com – Sebagian besar wilayah Pulau Sumatera mengalami pemadaman listrik massal (blackout) pada Sabtu (23/5/2026) sejak pukul 18.44 WIB. Gangguan ini melumpuhkan aktivitas masyarakat di sejumlah daerah seperti Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh.
Di tengah proses pemulihan sistem kelistrikan oleh PT PLN (Persero), kalangan akademisi menilai insiden tersebut menjadi alarm serius terhadap ketahanan jaringan transmisi listrik Sumatera.
Menurut penjelasan resmi PLN, gangguan bermula akibat cuaca buruk yang menghantam jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Provinsi Jambi. Jalur ini merupakan salah satu tulang punggung sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera.
Putusnya jaringan transmisi menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan beban listrik pada sistem. Untuk mencegah kerusakan lebih besar pada turbin dan generator, sistem proteksi otomatis pembangkit bekerja dengan mematikan unit-unit pembangkit secara bertahap.
Kondisi tersebut memicu efek domino hingga menyebabkan padamnya sistem kelistrikan di sebagian besar wilayah Sumatera.
Pakar Soroti Celah Predictive Maintenance
Menanggapi insiden itu, pakar teknik sekaligus akademisi Politeknik Negeri Medan, Ir. Martin Sembiring, S.T., M.T., menilai blackout besar ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeliharaan jaringan transmisi PLN.
Menurut akademisi yang dikenal dengan nama pena PakJaras tersebut, pengelolaan infrastruktur “jalan tol listrik” idealnya dilakukan melalui empat tahapan pemeliharaan berlapis, yakni:
Preventive Maintenance (PM) atau pemeliharaan pencegahan berkala.
Diagnostic Maintenance (DM) untuk mendeteksi kondisi abnormal peralatan.
Predictive Maintenance (PrM) berbasis analisis data dan prediksi kerusakan.
Corrective Maintenance (CM) berupa perbaikan setelah gangguan terjadi.
Martin menilai indikasi gangguan besar akibat cuaca ekstrem menunjukkan adanya celah pada tahapan Predictive Maintenance.
“Rentetan gangguan ini menunjukkan ada yang luput pada tahap Predictive Maintenance,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem PrM yang berjalan optimal seharusnya mampu membaca tren kerentanan jaringan terhadap cuaca ekstrem, mendeteksi potensi gangguan lebih awal, serta melakukan mitigasi sebelum kerusakan fisik terjadi.
Dalam praktik modern, Predictive Maintenance dilakukan melalui sensor real-time, pemantauan suhu konduktor, analisis beban jaringan, hingga prediksi cuaca ekstrem berbasis data.
Namun demikian, penyebab teknis final blackout masih menunggu hasil investigasi resmi PLN dan Kementerian ESDM.
Tantangan Pemulihan Sistem
PLN menyatakan proses pemulihan terus dilakukan secara bertahap. Hasil asesmen awal menunjukkan tidak terdapat kerusakan permanen seperti menara transmisi roboh.
Sekitar dua jam setelah kejadian, jaringan transmisi utama dan sejumlah gardu induk disebut telah kembali bertegangan.
Meski demikian, tantangan terbesar berada pada proses menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
Berbeda dengan PLTA atau PLTG yang dapat kembali beroperasi dalam waktu relatif singkat, PLTU membutuhkan proses pemanasan boiler dan pembentukan tekanan uap yang memakan waktu 15–20 jam sebelum sinkronisasi ke sistem dilakukan.
Tahapan tersebut dikenal dalam sistem ketenagalistrikan sebagai proses black start dan load pickup bertahap untuk menjaga kestabilan frekuensi jaringan.
Hingga Sabtu malam, tim teknis PLN masih bekerja 24 jam nonstop untuk menormalkan sistem kelistrikan Sumatera. Koordinasi dengan Kementerian ESDM dan pemerintah daerah juga terus dilakukan guna mempercepat pemulihan layanan kepada masyarakat.
Masyarakat kini menanti evaluasi menyeluruh terhadap sistem ketahanan jaringan listrik Sumatera agar peristiwa blackout berskala besar tidak kembali terulang.
Ir.Martin Sembiring ST.MT






