LAMPUNG, berswarafakta.com – Hari Raya Iduladha atau yang dikenal sebagai hari kurban bukan sekadar perayaan keagamaan semata, melainkan memiliki makna mendalam tentang ketakwaan, pengorbanan, dan kepedulian sosial dalam kehidupan umat Islam rabu,27 Mei 2026.
Peristiwa kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan kepatuhan luar biasa kepada Allah SWT dengan kesediaannya mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Dari kisah tersebut, umat Islam diajarkan untuk menempatkan perintah Allah di atas kepentingan pribadi.
Selain menjadi simbol ketaatan, ibadah kurban juga mengandung nilai keikhlasan dalam berkorban. Tidak hanya dalam bentuk harta, tetapi juga waktu, tenaga, dan kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama.
Hari kurban turut memperkuat nilai solidaritas sosial di tengah masyarakat. Daging hewan kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian, persaudaraan, dan pemerataan rezeki.
Momentum Iduladha juga dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari sifat-sifat buruk seperti keserakahan, egoisme, iri hati, dan kesombongan. Dengan berkurban, umat Islam diajak untuk menumbuhkan hati yang ikhlas dan penuh empati terhadap sesama.
Tak hanya itu, suasana kebersamaan saat salat Iduladha, penyembelihan hewan kurban, hingga pembagian daging menjadi sarana mempererat persatuan dan gotong royong di tengah kehidupan masyarakat.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
— QS. Al-Hajj: 37
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan terletak pada hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati, keikhlasan, dan ketakwaan umat kepada Allah SWT.
Dengan semangat Iduladha, masyarakat diharapkan mampu memperkuat nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan persaudaraan demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.
(Redaksi Berswarafakta.com)






