MEDAN, BerswaraFakta.com – Konselor Keluarga Keuskupan Agung Medan (KAM), Martin Sembiring, mengajak umat Katolik dan Protestan untuk memahami akar perbedaan keyakinan secara lebih bijaksana demi menjaga kerukunan di tengah masyarakat majemuk. Sabtu, 23 mEI 2026.
Dalam tulisan reflektifnya bertajuk “Beda Katolik dan Protestan: Memahami Akar Keyakinan Tanpa Harus Saling Menyalahkan”, Martin menilai perdebatan antarumat Kristen sering kali muncul akibat kurangnya pemahaman terhadap dasar teologi masing-masing gereja.
Menurutnya, perbedaan antara Katolik dan Protestan bukan sekadar soal tata cara ibadah, melainkan menyangkut cara memandang sumber kebenaran iman, sejarah keselamatan, hingga posisi tradisi gereja.
“Perselisihan semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita mau duduk bersama dan memahami dari mana akar perbedaan tersebut berasal,” tulis Martin.
Ia menjelaskan, tradisi Protestan yang lahir dari semangat Reformasi berpegang pada tiga prinsip utama yang dikenal sebagai Sola Fide, Sola Gratia, dan Sola Scriptura. Ketiga prinsip itu menekankan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman dan anugerah Tuhan, serta bahwa Alkitab menjadi satu-satunya sumber utama kebenaran iman.
Sementara itu, Gereja Katolik memandang pewarisan iman ditopang oleh tiga unsur yang saling berkaitan, yakni Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium atau wewenang mengajar gereja.
Martin juga menyinggung perbedaan jumlah kitab dalam Alkitab Katolik dan Protestan. Ia menerangkan bahwa Alkitab Katolik memuat 73 kitab, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika seperti Tobit, Yudit, dan Makabe, sedangkan Alkitab Protestan berisi 66 kitab.
Menurutnya, perbedaan itu lahir dari tradisi teks yang digunakan dalam proses pembentukan kanon Kitab Suci.
Dalam tulisannya, Martin turut meluruskan pandangan mengenai penghormatan umat Katolik kepada Bunda Maria. Ia menegaskan bahwa umat Katolik tidak menyembah Maria, melainkan meminta doa syafaatnya kepada Yesus Kristus.
“Yang benar adalah umat Katolik meminta didoakan oleh Maria agar doa-doa mereka dibawa kepada Yesus Kristus,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman yang benar mengenai perbedaan teologi dapat membantu umat Katolik dan Protestan menghentikan sikap saling menyalahkan serta memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.
“Perdebatan ini sejatinya bukan ajang pembuktian siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak. Kita sedang berbicara tentang dua bangunan teologi yang sama-sama memiliki akar sejarah,” tulis Martin.
Di akhir refleksinya, Martin berharap ruang keluarga dan kehidupan sosial tidak lagi menjadi arena perdebatan yang memecah belah, melainkan tempat untuk membangun dialog dan saling menghormati antarumat beragama.
(Ir.Martin Sembiring,ST.MT)






