SURABAYA, Berswarafakta.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember melalui Dewan Profesor menggelar Kuliah Bestari Majelis Dewan Guru Besar PTNBH bertajuk “Strategi Integratif Perlindungan Pesisir Pantai Utara Jawa: Sinergi Teknis, Tata Ruang, dan Ketahanan Masyarakat” secara daring, Selasa (26/5/2026). Forum ini menjadi panggung penting untuk menyerukan gerakan nasional dalam menghadapi ancaman krisis ekologi di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Krisis yang terjadi di kawasan pesisir utara Jawa dinilai semakin serius akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut yang terus berlangsung. Kondisi tersebut mengancam jutaan warga pesisir sekaligus stabilitas ekonomi nasional.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, saat membuka kegiatan dari kampus ITS Surabaya menegaskan bahwa Pantura bukan sekadar kawasan administratif, melainkan wilayah strategis yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional.
Forum strategis ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Didit Herdiawan Ashaf, Haryo Dwito A., Andojo Wurjanto, serta Bakti Setiawan. Diskusi dipandu anggota Dewan Guru Besar ITS, Mindriany Syafila dan Ali Masduqi.
Satu Nyali, Satu Misi untuk Indonesia Emas
Dalam diskusi yang diikuti sekitar 160 peserta tersebut, Martin Sembiring menyampaikan pandangan yang menekankan pentingnya persatuan seluruh elemen bangsa untuk menyelamatkan Pantura Jawa.
Menurut Martin, persoalan multidimensi di kawasan pesisir tidak dapat diselesaikan jika masing-masing pihak bergerak sendiri dan mempertahankan ego sektoral. Ia menilai diperlukan keberanian bersama, visi yang sama, dan kolaborasi nyata antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
“Krisis multidimensi di Pantura hanya bisa diatasi jika kita bersatu nyali, bersatu misi, serta menyatukan masyarakat dengan pemerintah,” ujarnya dalam forum utama.
Martin juga menyampaikan optimisme bahwa Pantura masih dapat diselamatkan apabila pemerintah hadir dengan regulasi yang tegas, didukung riset perguruan tinggi, keberanian mengambil langkah strategis, serta kesiapan mental masyarakat pesisir menghadapi perubahan.
Pandangan tersebut sejalan dengan fokus webinar mengenai ketahanan masyarakat pesisir. Rekayasa teknis seperti pembangunan tanggul laut dan restorasi mangrove dinilai tidak akan bertahan lama tanpa adanya rasa memiliki dan partisipasi aktif masyarakat.
Melalui Kuliah Bestari ini, Dewan Profesor ITS berkomitmen merangkum berbagai masukan dari kalangan akademisi, pemerintah, dan peserta menjadi rekomendasi kebijakan atau policy brief yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai langkah konkret menyelamatkan masa depan Pantura Jawa.
Ir.Martin Sembiring,ST.MT






