Misteri Family Office Bali: Dana Raksasa Datang, Mengapa Pemerintah Menolak APBN?

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, berswarafakta.com – Rencana pembentukan Family Office di Bali kembali menjadi sorotan publik. Program yang didorong Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan ini disebut berpotensi menarik aliran dana global hingga ratusan miliar dolar AS ke Indonesia. Presiden Prabowo Subianto dikabarkan memberi dukungan agar Indonesia mampu bersaing dengan pusat keuangan dunia seperti Singapura dan Hong Kong. Kamis, 28 Mei 2026.

Namun di tengah optimisme tersebut, muncul sikap tegas dari otoritas ekonomi: dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak boleh digunakan untuk membiayai operasional maupun infrastruktur Family Office.

Bali Diproyeksikan Jadi Magnet Dana Global

Konsep Family Office merupakan layanan pengelolaan kekayaan milik keluarga super kaya dunia. Skema ini biasa digunakan miliarder internasional untuk mengatur investasi, pajak, hingga warisan keluarga lintas negara.

Indonesia menargetkan dapat menarik sebagian kecil dari total aset Family Office global yang nilainya mencapai triliunan dolar AS. Bali dipilih karena dinilai memiliki daya tarik internasional, ekosistem pariwisata premium, dan potensi menjadi pusat investasi baru di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif, termasuk kemudahan regulasi dan kemungkinan fasilitas perpajakan tertentu bagi dana yang masuk dan diinvestasikan ke sektor strategis nasional.

Salah satu sektor yang diproyeksikan menerima dampak positif adalah kawasan industri hilirisasi seperti PT Kawasan Industri Terpadu Batang yang selama ini dipromosikan sebagai pusat investasi manufaktur dan ekspor.

Mengapa APBN Ditolak untuk Family Office?

Di tengah pembahasan tersebut, muncul penegasan dari pejabat ekonomi bahwa negara tidak boleh menggunakan uang rakyat untuk membiayai proyek yang ditujukan menarik investor ultra kaya dunia.

Pemerintah menilai APBN harus tetap difokuskan pada:

  • pendidikan,
  • kesehatan,
  • pengentasan kemiskinan,
  • subsidi masyarakat,
  • serta penguatan ekonomi rakyat.

Karena itu, jika investor global ingin menikmati fasilitas investasi di Indonesia, maka pembiayaan ekosistem Family Office harus berasal dari sektor swasta dan pelaku investasi sendiri, bukan dari kas negara.

Sikap tersebut dianggap sebagai upaya menjaga disiplin fiskal sekaligus memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat luas.

DPR Siapkan Regulasi dan Pengawasan Ketat

Selain persoalan pendanaan, pemerintah dan DPR juga mulai membahas perlunya aturan khusus terkait Family Office. Regulasi ini dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat parkir dana global tanpa pengawasan.

Pengawasan ketat dibutuhkan untuk:

  1. mencegah praktik pencucian uang,
  2. menghindari penggelapan pajak internasional,
  3. memastikan investasi tunduk pada hukum Indonesia,
  4. menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Wacana pembentukan komite pengawas khusus juga mulai mengemuka sebagai langkah antisipasi terhadap risiko keuangan global yang bisa mempengaruhi perekonomian nasional.

Indonesia Ingin Jadi Pemain Baru Keuangan Dunia

Pengamat menilai langkah Indonesia membangun ekosistem Family Office menunjukkan ambisi besar untuk masuk dalam peta pengelolaan kekayaan global. Selama ini, pasar tersebut didominasi Singapura, Hong Kong, dan Swiss.

Jika berhasil, Indonesia bukan hanya memperoleh aliran modal besar, tetapi juga peluang memperkuat sektor investasi riil, membuka lapangan kerja, dan mendorong hilirisasi industri nasional.

Namun pemerintah menegaskan satu hal penting: modal asing boleh masuk, tetapi tetap harus tunduk pada aturan nasional dan tidak membebani keuangan negara.

 

Ir.Martin Sembiring.ST.MT

Berita Terkait

Presiden Prabowo Hadiri Pelepasan Jenazah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan
Kepastian Pasokan Solar Industri B40 Dinilai Penting bagi Kelancaran Operasional Sektor Industri dan Maritim
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Soroti Kedaulatan Rupiah dan Ekonomi Nasional
Tokoh Masyarakat Minta Penjelasan Transparan Terkait Dugaan Paparan Asap Ganja
Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia, Indonesia Berduka
CEO HEY Jelaskan Latar Belakang Penggunaan Nama “Habibie” pada Lembaga Pendidikan
Kabupaten Pringsewu Kembali Raih Opini WTP Ke-11 Berturut-turut
KEJATI SUMUT Menuntut di Luar Jalur: Menggugat Logika Hukum Kasus KSOP Belawan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 23:45 WIB

Presiden Prabowo Hadiri Pelepasan Jenazah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan

Senin, 1 Juni 2026 - 22:38 WIB

Kepastian Pasokan Solar Industri B40 Dinilai Penting bagi Kelancaran Operasional Sektor Industri dan Maritim

Senin, 1 Juni 2026 - 13:12 WIB

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Soroti Kedaulatan Rupiah dan Ekonomi Nasional

Senin, 1 Juni 2026 - 12:28 WIB

Tokoh Masyarakat Minta Penjelasan Transparan Terkait Dugaan Paparan Asap Ganja

Minggu, 31 Mei 2026 - 18:23 WIB

Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia, Indonesia Berduka

Berita Terbaru