MEDAN, berswarafakta.com. Banyak orang pada masa kini merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia. Ketidakadilan seolah menjadi pemandangan biasa. Hukum kerap dinilai tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Di tengah budaya yang menjunjung tinggi kebebasan individu, tidak sedikit orang justru mengalami kehampaan dan kehilangan arah hidup.Senin,15 Juni 2026.
Dalam perspektif iman Kristen, kondisi tersebut dipahami sebagai dampak dari realitas dosa yang memengaruhi manusia dan sistem kehidupan. Namun, sebagian kalangan juga melihat adanya dimensi spiritual yang lebih luas di balik kerusakan dunia.
Pandangan itu antara lain muncul dari pembacaan terhadap Alkitab dan tradisi Yahudi kuno yang tertuang dalam Kitab Henokh.
Pemberontakan yang Berawal dari Langit
Tradisi Kristen mengajarkan bahwa akar kejahatan tidak semata-mata berasal dari struktur sosial, tetapi juga berkaitan dengan pemberontakan terhadap kehendak Allah.
Beberapa penafsir menghubungkan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 dengan kisah kejatuhan Lucifer akibat kesombongan dan keinginan menyamai Allah. Dari sana lahir pola kejahatan berupa penipuan, manipulasi kebenaran, serta janji kebebasan yang menyesatkan.
Pola serupa tampak dalam kisah Taman Eden (Kejadian 3), ketika ular menggoda Hawa dengan janji bahwa manusia dapat menjadi seperti Allah. Menurut pemahaman teologis ini, dosa bermula dari keraguan terhadap kebenaran dan keinginan merebut otoritas yang bukan milik manusia.
Tradisi Henokh dan Para Penjaga
Selain Alkitab kanonik, sebagian pembaca merujuk pada Kitab Henokh, khususnya bagian “Kitab Para Penjaga”.
Kitab tersebut mengisahkan tentang para malaikat yang disebut “The Watchers” atau Para Penjaga yang turun ke bumi dan berhubungan dengan perempuan manusia. Kisah ini sering dikaitkan dengan Kejadian 6:1-4.
Menurut tradisi Henokh, tindakan tersebut melahirkan dua bentuk kerusakan besar.
Pertama, munculnya Nephilim yang digambarkan sebagai sosok-sosok perkasa yang membawa kekerasan dan penindasan.
Kedua, penyebaran berbagai pengetahuan seperti metalurgi, astrologi, kosmetika, dan praktik-praktik yang dianggap menyimpang dari tujuan semula sehingga dipakai untuk dominasi dan peperangan.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa Kitab Henokh tidak termasuk dalam kanon Alkitab yang diakui oleh sebagian besar gereja Kristen. Karena itu, pandangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai tradisi keagamaan kuno yang memengaruhi sebagian tafsir, bukan sebagai ajaran yang disepakati secara universal.
Roh Jahat dalam Pemahaman Tradisional
Sebagian tradisi yang dipengaruhi Kitab Henokh berpendapat bahwa roh-roh Nephilim yang telah binasa kemudian menjadi roh-roh jahat yang berkeliaran.
Pandangan ini berbeda dengan pemahaman banyak gereja yang mengajarkan bahwa setan atau roh jahat berasal dari malaikat-malaikat yang jatuh.
Alkitab sendiri mencatat keberadaan roh jahat, seperti dalam kisah Legion di daerah Gerasa (Markus 5:1-20), tetapi tidak menjelaskan secara rinci asal-usul mereka.
Ketika Kekuasaan Bersatu Melawan Kebenaran
Dalam iman Kristen, penyaliban Yesus dipandang sebagai salah satu contoh bagaimana kejahatan dapat bekerja melalui berbagai lapisan kehidupan.
Ada dimensi spiritual, ada kepentingan agama, dan ada pertimbangan politik.
Pemimpin agama merasa terusik oleh ajaran Yesus. Penguasa politik memilih stabilitas daripada keadilan. Sementara itu, umat Kristen meyakini adanya kuasa kegelapan yang bekerja di balik berbagai keputusan tersebut.
Bagi banyak orang beriman, pola semacam ini dinilai masih dapat ditemukan hingga sekarang, baik dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan, fitnah, manipulasi informasi, maupun praktik-praktik korupsi.
Melawan Tanpa Menjadi Serupa
Meski mengakui adanya realitas kejahatan, ajaran Yesus tidak mendorong pembalasan dendam.
Melalui Matius 5:38-42, umat diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kebenaran harus ditegakkan tanpa kehilangan kasih terhadap sesama.
Sikap Nabot yang menolak menjual warisan leluhurnya kepada Raja Ahab (1 Raja-raja 21) sering dijadikan teladan tentang keberanian mempertahankan prinsip tanpa menggunakan cara-cara yang jahat.
Dengan demikian, perlawanan terhadap ketidakadilan tidak diwujudkan melalui kebencian, melainkan melalui keberanian moral, keteguhan pada kebenaran, dan kasih yang membebaskan.
Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan artikel renungan dan opini keagamaan yang memuat penafsiran teologis tertentu. Pandangan mengenai Lucifer, Para Penjaga, Nephilim, dan asal-usul roh jahat memiliki ragam pemahaman dalam tradisi Kristen.
Pembaca diharapkan membedakan antara ajaran Alkitab yang diterima secara luas dengan tafsir maupun tradisi kuno yang masih menjadi bahan diskusi di kalangan teolog.
Referensi:
Kejadian 3; Kejadian 6:1-4; Yesaya 14; Yehezkiel 28; 1 Raja-raja 21; Markus 5:1-20; Matius 5:38-42; 1 Korintus 2:8; Kitab Henokh (Kitab Para Penjaga).
Penulis: Ir. Martin Sembiring, S.T., M.T.






