Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai, Martin Sembiring Ajak Masyarakat Utamakan Perdamaian

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN. BerswaraFakta.com Di tengah meningkatnya polarisasi pandangan dan kecenderungan masyarakat mempertahankan pendapat masing-masing, mediator Martin Sembiring mengajak publik untuk lebih mengedepankan perdamaian daripada sekadar memenangkan perdebatan.

Melalui tajuk opini berjudul “Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai”, Martin menegaskan bahwa kebenaran dan keadilan merupakan nilai yang selalu dicari manusia. Namun, menurutnya, kedua hal tersebut tidak pernah dapat dipahami secara mutlak dari sudut pandang manusia.

“Yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Demikian pula, apa yang dirasakan adil oleh satu pihak dapat dipandang berbeda oleh pihak lainnya,” tulis Martin dalam opininya.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki akal, hati, dan nurani untuk menilai suatu persoalan. Akan tetapi, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam menentukan kebenaran yang sempurna. Menurutnya, kebenaran sejati dan keadilan yang mutlak merupakan otoritas Tuhan.

Pengalaman sebagai mediator, lanjut Martin, menunjukkan bahwa hampir setiap pihak yang datang dalam proses mediasi meyakini dirinya berada di posisi yang benar. Jika mediator ikut terjebak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, maka tujuan mediasi akan sulit tercapai.

Karena itu, ia menilai hakikat mediasi bukanlah menetapkan pemenang, melainkan membantu para pihak menemukan titik temu yang mampu mengakhiri konflik melalui kesepakatan bersama. Pandangan ini sejalan dengan prinsip mediasi yang menempatkan mediator sebagai pihak netral yang memfasilitasi dialog menuju penyelesaian yang disepakati para pihak.

Martin juga menekankan pentingnya belas kasih sebagai dasar membangun perdamaian. Menurutnya, belas kasih lahir dari cinta dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia. Ketika kasih memudar, manusia cenderung lebih mengutamakan ego, pembalasan, dan pembenaran diri.

Ia berpandangan bahwa menjadi pembawa damai bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan dalam mengendalikan ego demi kepentingan bersama.

“Hikmat seseorang bukan diukur dari seberapa banyak perdebatan yang dimenangkannya, melainkan dari seberapa banyak kedamaian yang berhasil diwujudkannya,” tulisnya.

Dalam penutup opininya, Martin mengajak masyarakat membangun budaya saling mendengar, saling memahami, dan menghormati perbedaan sebagai fondasi kehidupan yang harmonis. Menurutnya, masyarakat yang damai tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling benar, tetapi oleh orang-orang yang bersedia mengutamakan dialog dan kemaslahatan bersama.

Ia menyimpulkan bahwa damai sejahtera bukan sekadar tujuan akhir kehidupan bermasyarakat, melainkan jalan yang membawa manusia semakin dekat kepada Sang Sumber Kebenaran dan Keadilan.

(Ir.Martin Sembiring.ST.MT)

Berita Terkait

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik
Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet
Ketika Sejarah Menjadi Hakim Kepemimpinan: Artikel Opini Mengulas Fenomena Jokowi dalam Perspektif Pancasila
Arih Ersada: Filsafat Mediasi dari Tanah Karo yang Mendahului Zaman
Sinergitas dalam APPEKNAS: Rumah Konstruksi, Membangun Indonesia Emas
Ketahanan Ekonomi Menuntut Keberanian Berbenah
Salam Pancasila
Webinar RKP Bahas Relevansi USDEK di Era Keterbukaan, Tekankan Rekonstruksi Nilai-Nilai Pancasila
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:17 WIB

Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai, Martin Sembiring Ajak Masyarakat Utamakan Perdamaian

Senin, 27 Juli 2026 - 08:10 WIB

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:34 WIB

Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:06 WIB

Ketika Sejarah Menjadi Hakim Kepemimpinan: Artikel Opini Mengulas Fenomena Jokowi dalam Perspektif Pancasila

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:51 WIB

Arih Ersada: Filsafat Mediasi dari Tanah Karo yang Mendahului Zaman

Berita Terbaru