Hardiknas 2026 Jadi Sorotan, Pemerhati Nilai Seremoni Belum Sentuh Akar Masalah Pendidikan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hardiknas 2026 kembali diperingati dengan berbagai seremoni di seluruh Indonesia. Namun di balik perayaan tersebut, muncul kritik tajam terhadap kondisi nyata pendidikan, khususnya terkait kesejahteraan guru, beban administrasi, dan arah kebijakan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan. Opini ini mengajak publik untuk menjadikan Hardiknas sebagai momentum refleksi, bukan sekadar rutinitas seremonial.

Hardiknas 2026 kembali diperingati dengan berbagai seremoni di seluruh Indonesia. Namun di balik perayaan tersebut, muncul kritik tajam terhadap kondisi nyata pendidikan, khususnya terkait kesejahteraan guru, beban administrasi, dan arah kebijakan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan. Opini ini mengajak publik untuk menjadikan Hardiknas sebagai momentum refleksi, bukan sekadar rutinitas seremonial.

Jakarta, Berswara Fakta.Com – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2026 kembali digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Upacara bendera dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan dengan mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Meski berlangsung khidmat, peringatan tahun ini mendapat sorotan dari sejumlah kalangan. Pemerhati vokasi, Martin Sembiring, menilai Hardiknas masih cenderung bersifat seremonial dan belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar di dunia pendidikan.

Menurutnya, hingga saat ini pendidikan masih berfokus pada capaian administratif dan target kuantitatif. Sementara itu, nilai-nilai dasar pendidikan yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara seperti asah, asih, dan asuh dinilai belum optimal diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Ia menyoroti kondisi kesejahteraan guru yang dinilai masih menjadi persoalan utama. Meski pemerintah telah menggulirkan berbagai program seperti tunjangan sertifikasi dan bantuan pendidikan, kebijakan tersebut disebut belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan ekonomi para pendidik.

“Beban administrasi yang tinggi dan minimnya penghargaan terhadap profesi guru masih menjadi tantangan di lapangan,” ujarnya.

Selain itu, kondisi serupa juga disebut terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Dosen dan tenaga kependidikan dinilai masih menghadapi ketidakpastian kesejahteraan, sementara institusi pendidikan tinggi cenderung bergerak ke arah pragmatisme pasar kerja.

Di sisi lain, kebijakan digitalisasi pendidikan dan penerapan pembelajaran berbasis teknologi seperti deep learning dinilai sebagai langkah maju. Namun, teknologi tersebut dianggap tidak dapat menggantikan peran utama guru dalam membentuk karakter dan nilai peserta didik.

Ia juga menekankan pentingnya arah kebijakan yang tidak hanya berfokus pada capaian angka, tetapi juga pada perubahan pola pikir dan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia yang dicanangkan Prabowo Subianto, sektor pendidikan diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.

Pengamat menilai momentum Hardiknas seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan guru dan peningkatan mutu pendidikan, bukan sekadar agenda seremonial tahunan

(Martin Sembiring)

Berita Terkait

Geger Hardiknas 2026, 6 ASN Deli Serdang Dipecat di Hadapan Peserta Upacara
Bupati Nagan Raya: Momentum Hardiknas ke-80 untuk Merefleksikan Cita-cita Ki Hajar Dewantara
Mengganyang Mafia Maritim, Wujudkan Poros Maritim Dunia untuk Rakyat
Hari Pers Sedunia 2026: BerswaraFakta.com Sampaikan Ucapan dan Tegaskan Komitmen Jurnalisme Berkualitas
Hardiknas 2026: Ketum IWO Indonesia Serukan Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu
MEMELUK SANG RAJA DI TENGAH PERJUANGAN KAUM MARHAEN Refleksi Paskah, Spirit May Day, dan Kedaulatan Kemanusiaan
PRABOWONOMICS: Kedaulatan Energi dan Strategi Kawasan Memutus Ketergantungan Global
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 17:14 WIB

Geger Hardiknas 2026, 6 ASN Deli Serdang Dipecat di Hadapan Peserta Upacara

Senin, 4 Mei 2026 - 16:44 WIB

Bupati Nagan Raya: Momentum Hardiknas ke-80 untuk Merefleksikan Cita-cita Ki Hajar Dewantara

Senin, 4 Mei 2026 - 10:35 WIB

Mengganyang Mafia Maritim, Wujudkan Poros Maritim Dunia untuk Rakyat

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:38 WIB

Hari Pers Sedunia 2026: BerswaraFakta.com Sampaikan Ucapan dan Tegaskan Komitmen Jurnalisme Berkualitas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:29 WIB

Hardiknas 2026 Jadi Sorotan, Pemerhati Nilai Seremoni Belum Sentuh Akar Masalah Pendidikan

Berita Terbaru

Pemkab Deli Serdang mengumumkan pemecatan enam ASN saat upacara Hardiknas 2026 di Lubuk Pakam akibat pelanggaran disiplin berat.

Hukum & Disiplin ASN

Geger Hardiknas 2026, 6 ASN Deli Serdang Dipecat di Hadapan Peserta Upacara

Senin, 4 Mei 2026 - 17:14 WIB