Menolak Agama Etalase: Mengembalikan Umat sebagai Subjek, Bukan Komoditas

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena ini merupakan wajah baru dari apa yang dapat disebut sebagai “agama etalase” — agama yang lebih sibuk menampilkan simbol, citra, dan kepentingan institusional daripada menghadirkan kasih dan keadilan bagi manusia. Di balik kemegahan seremonial, sering kali tersimpan praktik-praktik yang menjauh dari esensi iman itu sendiri.

Situasi tersebut mengingatkan kita pada kritik keras Yesus terhadap kaum Farisi dan ahli Taurat. Mereka memformalkan kesalehan, menumpuk aturan, dan membebani rakyat demi mempertahankan posisi serta otoritas mereka. Tindakan Yesus yang menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah bukan sekadar ekspresi kemarahan, melainkan pernyataan teologis yang tegas: rumah Allah tidak boleh dijadikan pasar, dan iman tidak boleh diperdagangkan.

Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Ketika agama dijalankan dengan logika untung-rugi, ketika nilai spiritual diukur oleh kemampuan finansial atau besarnya kontribusi kepada institusi, maka agama sedang kehilangan jiwanya. Pada titik itu, iman berubah menjadi transaksi dan umat kehilangan martabatnya sebagai pribadi yang dikasihi Allah.

Dalam konteks inilah renungan Bapa Uskup Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Minggu, 14 Juni 2026, menghadirkan refleksi yang sangat penting. Melalui tema “Dikasihi, Diperdamaikan, dan Diutus,” beliau mengajak umat kembali kepada fondasi terdalam kehidupan Kristiani: manusia bernilai bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan karena ia adalah milik Allah.

Pesan Injil yang dikutip dalam renungan tersebut menjadi koreksi mendasar bagi kecenderungan komersialisasi agama:

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan antitesis paling kuat terhadap segala bentuk liberalisasi dan objektifikasi agama. Keselamatan, kasih, pengampunan, dan rahmat Allah adalah anugerah yang tidak dapat dibeli, dijual, maupun dipertukarkan dengan kepentingan apa pun. Semuanya diberikan secara cuma-cuma dan karena itu harus dibagikan dengan semangat yang sama.

Lebih jauh, Uskup Kornelius mengingatkan bagaimana Kristus memandang umat yang “seperti domba tanpa gembala.” Gambaran ini menunjukkan bahwa inti kehidupan beragama bukanlah dominasi, melainkan pelayanan. Gereja tidak dipanggil untuk berdiri di menara gading, melainkan hadir di tengah luka-luka dunia. Gereja sejati tumbuh dari belas kasih, bukan dari ambisi struktural atau pencarian pengaruh.

Orang yang sungguh menyadari bahwa dirinya diselamatkan oleh rahmat tidak akan menjadikan agama sebagai kendaraan kekuasaan. Kesadaran itu justru melahirkan kerendahan hati, semangat pengabdian, dan keberanian untuk melayani tanpa pamrih. Dari sanalah lahir para pekerja kemanusiaan yang menghidupi iman secara otentik.

Di tengah zaman yang semakin menempatkan segala sesuatu dalam logika pasar, umat beriman perlu mengambil sikap yang jelas. Kita tidak boleh menjadi bagian dari mesin yang mengubah agama menjadi komoditas. Kita harus mengembalikan agama kepada tujuan hakikinya: membebaskan manusia, memulihkan martabat, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keadilan.

Agama yang sejati tidak mengobjektifikasi umat. Sebaliknya, ia memerdekakan manusia sebagai subjek yang sadar, bermartabat, dan bertanggung jawab atas sesamanya.

Pada akhirnya, Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang hanya sibuk dengan ritual dan urusan internal. Gereja yang hidup adalah Gereja yang keluar, menyapa, melayani, dan menghadirkan harapan. Gereja yang bersukacita karena dikasihi Allah, lalu dengan murah hati membagikan rahmat itu kepada dunia.

Karena iman tidak pernah dimaksudkan untuk diperdagangkan. Iman hadir untuk memanusiakan manusia.

(Ir. Martin Sembiring.ST.MT)

Berita Terkait

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik
Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet
Ketika Sejarah Menjadi Hakim Kepemimpinan: Artikel Opini Mengulas Fenomena Jokowi dalam Perspektif Pancasila
Arih Ersada: Filsafat Mediasi dari Tanah Karo yang Mendahului Zaman
Sinergitas dalam APPEKNAS: Rumah Konstruksi, Membangun Indonesia Emas
Ketahanan Ekonomi Menuntut Keberanian Berbenah
Salam Pancasila
Pemkab Batu Bara Tegaskan Komitmen Salurkan Insentif bagi Bilal Mayit, Penggali Kubur, dan Guru Mengaji
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 08:10 WIB

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:34 WIB

Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:06 WIB

Ketika Sejarah Menjadi Hakim Kepemimpinan: Artikel Opini Mengulas Fenomena Jokowi dalam Perspektif Pancasila

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:51 WIB

Arih Ersada: Filsafat Mediasi dari Tanah Karo yang Mendahului Zaman

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:47 WIB

Sinergitas dalam APPEKNAS: Rumah Konstruksi, Membangun Indonesia Emas

Berita Terbaru