Telaah Politik dan Ideologi Kebangsaan “Indonesia Dikepung Liberalisme: Meluruhkan Kedaulatan Rakyat dan Mengkhianati Khittah Pancasila”

Sabtu, 16 Mei 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pancasila dan rakyat Indonesia menghadapi arus liberalisme serta dominasi oligarki politik dan ekonomi.

Pancasila dan rakyat Indonesia menghadapi arus liberalisme serta dominasi oligarki politik dan ekonomi.

MEDAN, BerswaraFakta.Com-Esai ini memotret kegelisahan ideologis terhadap arah demokrasi dan ekonomi Indonesia yang dinilai semakin liberal dan menjauh dari semangat Pancasila. Penulis menempatkan Pancasila bukan sekadar dasar negara formal, melainkan kompas moral dan spiritual yang seharusnya menjadi orientasi utama dalam penyelenggaraan kekuasaan.

Secara naratif, tulisan dibangun dengan pendekatan religius, ideologis, dan kritik sosial-politik yang kuat. Perspektif iman dipakai sebagai landasan etik untuk menilai praktik kekuasaan, ekonomi pasar, hingga perilaku elite politik.

Liberalisme sebagai Ancaman terhadap Kolektivitas Bangsa

Penulis memosisikan liberalisme sebagai antitesis Pancasila. Liberalisme dipandang melahirkan individualisme ekstrem, kompetisi tanpa etika, serta mengikis gotong royong sebagai identitas bangsa Indonesia.

Dalam sudut pandang ini, kebebasan individu yang tidak dibatasi nilai moral dianggap berpotensi menciptakan:

  • ketimpangan sosial,
  • dominasi oligarki,
  • pelemahan musyawarah,
  • serta menjauhkan negara dari cita-cita keadilan sosial.

Pandangan tersebut sejalan dengan kritik klasik terhadap neoliberalisme yang berkembang di banyak negara berkembang, terutama terkait dominasi pasar dan kapital global terhadap kebijakan publik.

Kritik terhadap Demokrasi Prosedural dan Oligarki Politik

Esai ini juga menyoroti demokrasi prosedural yang dianggap hanya formalitas elektoral tanpa substansi kerakyatan. DPR dan partai politik dikritik karena dinilai:

  • terlalu bergantung pada modal,
  • kehilangan orientasi ideologis,
  • dan membuka ruang dominasi kaum oligarki.

Penulis menilai biaya politik yang mahal menyebabkan kebijakan publik mudah dipengaruhi kepentingan ekonomi besar. Akibatnya, regulasi dianggap lebih berpihak pada investasi dan pasar dibanding perlindungan rakyat kecil.

Dalam konteks ini, Pasal 33 UUD 1945 dijadikan rujukan utama sebagai dasar ekonomi kerakyatan yang menurut penulis mulai tergerus oleh liberalisasi sektor strategis.

Kritik terhadap Struktur BUMN dan Ekonomi Negara

Bagian yang cukup tajam dalam esai ini adalah kritik terhadap struktur anak-cucu perusahaan BUMN. Penulis menilai ekspansi korporasi BUMN telah melahirkan:

  • birokrasi ekonomi yang gemuk,
  • ruang konflik kepentingan,
  • serta lemahnya pengawasan publik.

Contoh yang diangkat adalah sektor maritim seperti Pelindo yang dinilai belum optimal memberi dampak langsung bagi pemerataan ekonomi masyarakat kepulauan.

Kritik ini merefleksikan kekhawatiran bahwa BUMN yang semestinya menjadi alat negara untuk pelayanan publik justru bergerak menyerupai korporasi komersial murni.

UMKM dan Kaum Marhaen sebagai Korban Struktur Ekonomi

Esai menempatkan UMKM dan kaum marhaen sebagai korban utama sistem ekonomi yang dianggap terlalu liberal. Penulis melihat:

  • produk asing,
  • dominasi ritel besar,
  • serta monopoli pasar

telah mempersempit ruang hidup ekonomi rakyat kecil.

Narasi “rakyat menjadi penonton di negerinya sendiri” dipakai untuk menegaskan adanya ketimpangan penguasaan sumber daya antara elite ekonomi dan masyarakat akar rumput.

Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm

Secara ideologis, inti utama esai ini adalah penegasan bahwa Pancasila harus menjadi:

  • sumber dari segala sumber hukum,
  • dasar etika politik,
  • sekaligus otoritas moral negara.

Konsep “Otoritas Pancasila” digunakan untuk menolak segala bentuk regulasi yang dianggap terlalu liberal, privatistik, atau mengurangi kedaulatan negara atas sektor strategis.

Di sini terlihat pengaruh pemikiran nasionalistik-populis yang menekankan:

  • kedaulatan ekonomi,
  • proteksi rakyat kecil,
  • dan negara yang aktif mengendalikan cabang produksi penting.

Catatan Kritis dan Perspektif Berimbang

Walaupun esai ini kuat secara retorika ideologis, ada beberapa hal yang dapat menjadi ruang diskusi lebih lanjut:

  1. Liberalisme memiliki spektrum luas
    Tidak semua prinsip liberal identik dengan antiagama atau anti-Pancasila. Dalam praktik demokrasi modern, beberapa nilai liberal seperti hak sipil, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hukum juga menjadi bagian penting negara demokratis.
  2. Tantangan globalisasi ekonomi
    Indonesia hidup dalam sistem ekonomi dunia yang saling terhubung. Tantangannya bukan sekadar menolak pasar bebas, tetapi membangun regulasi yang mampu melindungi kepentingan nasional tanpa terisolasi dari perkembangan global.
  3. Reformasi kelembagaan membutuhkan desain konkret
    Gagasan reformasi partai, pembatasan oligarki, dan audit BUMN membutuhkan mekanisme teknis, regulasi jelas, serta pengawasan independen agar tidak berhenti pada slogan politik.

Kesimpulan

Esai ini merupakan kritik ideologis yang kuat terhadap arah demokrasi dan ekonomi Indonesia yang dianggap terlalu liberal dan oligarkis. Penulis menyerukan:

  • penguatan kembali nilai Pancasila,
  • ekonomi kerakyatan,
  • musyawarah mufakat,
  • serta keberpihakan nyata kepada UMKM dan rakyat kecil.

Pesan utamanya adalah bahwa Indonesia tidak boleh kehilangan identitas kebangsaannya di tengah arus globalisasi dan kapitalisme modern. Dalam pandangan penulis, Pancasila harus tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan arah moral bangsa Indonesia.

(Ir.Martin Sembiring,ST.MT)

Berita Terkait

DPC PKB Pesawaran Perkuat Konsolidasi, Siap Jalankan Arahan DPP dan DPW PKB Lampung
Indonesia di Persimpangan: Krisis Moral, Integritas, dan Kepercayaan Rakyat
Rapat Paripurna DPRD Pesawaran Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD Tahun Anggaran 2025
Ketua Umum GNTP: Korupsi Berawal dari Politik Berbiaya Tinggi, Negara Harus Memutus Mata Rantai “Bisnis Kekuasaan”
PKB Pesawaran Gelar Pasar Murah di Desa Karang Anyar Tiyuh Kesugihan
Wakil Bupati Batu Bara Tegaskan Komitmen Perkuat Tata Kelola Keuangan Daerah dan Transformasi BUMD
AUDENSI KETUA DPW DAN DPD PEKAT IB DENGAN KETUA DPRD PESAWARAN, BAHAS SINERGI PEMBANGUNAN DAN ASPIRASI MASYARAKAT
Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 21:28 WIB

DPC PKB Pesawaran Perkuat Konsolidasi, Siap Jalankan Arahan DPP dan DPW PKB Lampung

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Indonesia di Persimpangan: Krisis Moral, Integritas, dan Kepercayaan Rakyat

Kamis, 30 Juli 2026 - 23:22 WIB

Rapat Paripurna DPRD Pesawaran Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD Tahun Anggaran 2025

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:09 WIB

Ketua Umum GNTP: Korupsi Berawal dari Politik Berbiaya Tinggi, Negara Harus Memutus Mata Rantai “Bisnis Kekuasaan”

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:10 WIB

PKB Pesawaran Gelar Pasar Murah di Desa Karang Anyar Tiyuh Kesugihan

Berita Terbaru