Deli Serdang, berswaraFakta.com –
Keluhan masyarakat Desa Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, terkait dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah peternakan babi dan sebuah pabrik mi instan kembali mencuat. Warga menyebut aktivitas tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan berdampak pada kondisi lingkungan serta sumber air di sekitar permukiman.
Menurut keterangan warga, limbah yang diduga berasal dari aktivitas peternakan dan industri tersebut dialirkan ke parit yang bermuara ke Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melintasi kawasan permukiman warga. Kondisi ini disebut berdampak pada menurunnya kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah warga mengaku air parit maupun sungai mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap serta menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, sumber air dari sumur bor maupun sumur gali yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga juga dinilai tidak lagi layak digunakan secara optimal.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hal ini dinilai menambah beban ekonomi masyarakat, mengingat sebagian besar warga berprofesi sebagai buruh dan petani.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa dugaan pencemaran tersebut telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Ia juga menyebut bahwa sebelumnya aktivitas peternakan babi di wilayah tersebut pernah dihentikan, dan kondisi air sempat mengalami perbaikan, meski belum sepenuhnya layak konsumsi.
“Beberapa tahun lalu sempat ditutup, air sumur kami sedikit membaik. Tapi kemudian aktivitas kembali berjalan dan kondisi air seperti sekarang,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah desa bersama instansi terkait, termasuk lembaga lingkungan hidup, dapat melakukan peninjauan dan investigasi terhadap dugaan pencemaran tersebut. Warga juga meminta adanya pengelolaan limbah yang sesuai ketentuan agar tidak berdampak pada kesehatan dan lingkungan sekitar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak peternakan maupun pengelola pabrik mi instan terkait dugaan yang disampaikan warga tersebut.
(Selamet/Team)






