MEDAN, SwaraFakta .Com – Peringatan Hari Buruh Nasional 2026 dimaknai berbeda oleh komunitas Sembiring Farm. Tidak turun ke jalan, mereka justru menggelar aksi reflektif bertajuk perjalanan budaya ke Pantai Pondok Permai, Pantai Cermin, Deli Serdang, Jumat (1/5/2026).
Sebanyak 40 anggota komunitas berangkat dari Kota Medan sejak pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dikoordinir oleh Herunesia selaku ketua, Raymon sebagai sekretaris, Grace sebagai bendahara, serta Anditori sebagai penggerak kegiatan.
Bagi Sembiring Farm, perjalanan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan bentuk perlawanan simbolik terhadap sistem ekonomi yang dinilai semakin menjauhkan buruh dari nilai kemanusiaan.
Usung Filosofi “Family Taksi”
Gerakan ini terinspirasi dari lagu legendaris Karo berjudul Family Taksi karya Djaga Sembiring Depari. Lagu tersebut dianggap merepresentasikan realitas keras yang dialami pekerja, khususnya di sektor transportasi.
“Semangat Family Taksi kami jadikan simbol perlawanan. Di era liberal dan digital saat ini, buruh sering diperlakukan seperti mesin. Kami ingin menegaskan bahwa buruh berdaulat atas waktu dan martabatnya,” ujar Herunesia.
Menurutnya, tekanan ekonomi dan sistem kerja modern kerap membuat pekerja terjebak dalam rutinitas yang mengikis nilai kemanusiaan.
Refleksi Ideologi Pancasila
Sembiring Farm juga menegaskan bahwa gerakan mereka sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam menghadapi tantangan globalisasi ekonomi.
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial, serta persatuan Indonesia disebut sebagai fondasi penting dalam memperjuangkan hak-hak buruh di tengah dominasi pemilik modal.
“Teknologi dan modal seharusnya mengabdi pada manusia, bukan sebaliknya. Buruh bukan komoditas,” tegas Raymon.
Makna Hari Buruh
Raymon dan Anditori menambahkan, kegiatan di pantai menjadi simbol kedaulatan buruh atas waktu dan kehidupannya. Momentum ini dimanfaatkan untuk berhenti sejenak dari rutinitas kerja dan melakukan refleksi bersama.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi budaya di tepi pantai yang menekankan pentingnya nilai gotong royong sebagai pilar ekonomi nasional.
“Solidaritas adalah kekuatan utama. Gotong royong harus tetap menjadi panglima di tengah arus liberalisme global,” tambah Anditori.
Peringatan Hari Buruh oleh Sembiring Farm ini menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh tidak hanya dilakukan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga melalui pendekatan budaya dan refleksi nilai.
Selamat Hari Buruh. Hidup Buruh, Hidup Rakyat Kecil!
(Martin Sembiring)






