MEDAN, BerswaraFakta.Com-Ir. Martin Sembiring, S.T., M.T., mengecam keras beredarnya konten provokatif di media sosial yang menggiring opini publik terkait fenomena jejak putih pesawat di langit. Konten yang viral melalui akun TikTok @iiiratto itu disebut membangun narasi ketakutan dengan mengaitkan jejak pesawat dengan dugaan penyebaran senjata biologis, jum’at,08 Mei 2026.
Dalam video tersebut, jejak putih di angkasa diklaim bukan sekadar efek kondensasi mesin pesawat, melainkan zat berbahaya yang disebut dapat memicu berbagai penyakit seperti influenza hingga gangguan pernapasan massal.
Narasi Dinilai Menyesatkan dan Meresahkan
Martin Sembiring menilai penyebaran informasi semacam itu sangat berbahaya bagi masyarakat awam karena memanfaatkan ketidaktahuan publik demi menciptakan kepanikan.
“Ini adalah bentuk provokasi terbuka yang sangat menakutkan bagi rakyat awam. Membangun ketakutan di atas ketidaktahuan adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab,” ujarnya saat menanggapi viralnya video tersebut, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, masyarakat harus lebih kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial, terutama yang tidak disertai dasar ilmiah maupun sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Fakta Ilmiah Tentang Jejak Putih Pesawat
Fenomena garis putih di belakang pesawat secara ilmiah dikenal sebagai contrails atau jejak kondensasi. Fenomena ini terjadi ketika uap air panas dari mesin jet bertemu udara dingin pada ketinggian tertentu, lalu membeku menjadi kristal es.
Fenomena tersebut lazim terjadi dalam dunia penerbangan dan tidak memiliki hubungan dengan penyebaran zat biologis ataupun senjata kimia sebagaimana diklaim dalam teori konspirasi “chemtrail”.
Pemerintah melalui kementerian terkait sebelumnya juga telah menyatakan bahwa narasi chemtrail sebagai alat penyebaran penyakit merupakan hoaks dan tidak memiliki bukti ilmiah valid.
Imbauan Tingkatkan Literasi Digital
Martin Sembiring turut mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terseret arus disinformasi yang berkembang cepat di media sosial.
“Kita harus cerdas dalam menyaring informasi. Jangan biarkan langit yang bersih menjadi kotor karena narasi hoaks yang hanya bertujuan menciptakan kepanikan di tingkat akar rumput,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat lebih mengedepankan logika, data ilmiah, serta merujuk pada penjelasan resmi dari ahli atmosfer maupun lembaga pemerintah sebelum mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
(Martin Sembiring)






