Indonesia di Persimpangan Kedaulatan Digital
MEDAN, BerswaraFakta.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Di permukaan, masyarakat merasa AI hadir untuk mempermudah kehidupan. Namun di balik kenyamanan tersebut, tersimpan sebuah paradoks besar yang jarang disadari. Senin 11 Mei 2026.
Menurut Martin Sembiring, masyarakat Indonesia sesungguhnya sedang menjadi “pendidik gratis” bagi sistem AI global. Setiap interaksi, setiap koreksi atas jawaban yang salah, hingga setiap logika dan dialek yang dimasukkan ke dalam kolom percakapan menjadi data mentah yang sangat berharga untuk melatih mesin-mesin AI.
Ironisnya, keuntungan ekonomi, kendali teknologi, dan pusat server tetap berada di tangan pemilik modal serta pemegang paten di luar negeri. Tidak ada alih teknologi yang benar-benar setara. Bangsa ini hanya ditempatkan sebagai pengguna, pasar, sekaligus penyedia data intelektual tanpa kompensasi.
Jebakan Kesesatan TSM di Era AI
Menurut Martin Sembiring, ketergantungan pada platform AI gratis berpotensi melahirkan kesesatan yang bersifat Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM). Bahaya terbesar bukan sekadar kesalahan informasi, melainkan ketika masyarakat mulai menganggap kekeliruan sebagai sesuatu yang wajar.
Fenomena ini dinilai telah merambah dunia pendidikan. Saat ini, laporan akhir mahasiswa, skripsi, tesis, hingga disertasi mulai banyak dipercayakan kepada AI. Padahal, karya akademik sejatinya merupakan bukti kemampuan berpikir kritis dan kedalaman analisis manusia.
Jika proses intelektual diserahkan sepenuhnya kepada mesin, maka bangsa ini dikhawatirkan hanya akan melahirkan operator teknologi, bukan pemikir yang mampu menguji validitas data dan memahami dampak ideologis dari informasi yang dihasilkan AI.
“Tragedi terbesar adalah ketika jawaban yang salah tetapi terdengar meyakinkan justru diterima tanpa verifikasi,” ujar Martin Sembiring.
Ancaman Dekadensi Akademik
Martin Sembiring menilai dunia pendidikan harus kembali memperkuat budaya literasi dan penggunaan referensi yang kredibel. Perguruan tinggi tidak boleh berubah menjadi pabrik narasi instan yang hanya mengandalkan AI tanpa landasan ilmiah yang kuat.
Menurutnya, institusi pendidikan wajib menempatkan buku teks, jurnal ilmiah, dan pustaka valid sebagai fondasi utama pembelajaran. Penggunaan AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.
Ia juga menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap praktik pembuatan buku ajar maupun karya akademik yang hanya bersandar pada AI tanpa rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Strategi Membangun Algoritma Mandiri
Menurut Martin Sembiring, AI tidak mungkin dihentikan. Namun teknologi tersebut harus dikendalikan agar tidak berubah menjadi mesin disinformasi yang menyesatkan masyarakat.
Untuk itu, Indonesia perlu membangun kedaulatan digital melalui langkah-langkah strategis dan teknis yang nyata.
1. Rekayasa Dataset Lokal
Indonesia harus memiliki data latih yang relevan dengan konteks budaya, bahasa, dan kebutuhan nasional. Dataset lokal perlu dibersihkan dari bias informasi yang salah agar AI mampu menghasilkan jawaban yang sesuai dengan realitas masyarakat Indonesia.
2. Fine-Tuning Berbasis Etika Nasional
Melalui metode Supervised Fine-Tuning (SFT), AI dapat diarahkan untuk mematuhi logika, etika, dan kepentingan nasional, bukan sekadar mengikuti narasi global yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa.
3. Penggabungan AI dan Rule-Based System
Martin Sembiring menekankan pentingnya penggabungan AI dengan sistem berbasis aturan atau rule-based programming. Dengan pendekatan deterministik seperti fungsi f(x) = y, sistem dapat dipaksa menolak menjawab ketika tingkat keyakinan jawaban berada di bawah ambang tertentu.
Pendekatan ini dinilai penting untuk mencegah AI memberikan jawaban spekulatif yang berpotensi menciptakan disinformasi ilmiah.
4. Penguasaan Infrastruktur Teknologi
Indonesia juga perlu menguasai infrastruktur teknologi AI, termasuk penggunaan framework seperti LangChain maupun NVIDIA NeMo Guardrails untuk memastikan AI tetap berjalan sesuai standar keamanan, kebenaran, dan kepentingan rakyat.
Menolak Menjadi Sekadar Pasar
Menurut Martin Sembiring, pertanyaan paling penting bagi Indonesia hari ini adalah apakah bangsa ini akan terus menjadi pengguna pasif teknologi asing atau mulai bertransformasi menjadi pengendali teknologi.
Ketika skripsi, tesis, hingga disertasi sepenuhnya dipercayakan kepada AI luar negeri, maka sesungguhnya bangsa ini sedang membangun ketergantungan intelektual yang berbahaya.
Indonesia, lanjutnya, tidak boleh puas hanya menjadi pasar digital. Negara harus mampu menciptakan sistem AI sendiri yang berpihak pada kepentingan rakyat, menjaga integritas ilmu pengetahuan, dan memperkuat kedaulatan nasional.
“Jangan sampai suatu hari nanti kita hancur bukan karena AI terlalu pintar, tetapi karena kita sejak awal membiarkan diri disesatkan oleh kemudahan gratisan yang menggerus daya kritis bangsa,” tegas
Martin Sembiring.






