Jakarta, BerswaraFakta.Com-Wacana mengenai pentingnya kepemimpinan yang mampu merangkul kritik kembali mencuat dalam diskursus kebangsaan. Sejumlah kalangan menilai tokoh nasional semestinya mengedepankan dialog dan pembinaan terhadap generasi muda yang kritis, bukan membangun jarak komunikasi.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Martin Sembiring, Pamong Pancasila, dalam sebuah opini yang menyoroti pentingnya karakter negarawan dalam menjaga persatuan nasional di tengah dinamika politik yang berkembang.
Menurut Martin, seorang negarawan ideal adalah sosok yang menempatkan kepentingan bangsa di atas ego maupun kepentingan pribadi. Ia menilai kritik dari anak bangsa seharusnya dipandang sebagai bagian dari energi demokrasi yang perlu diarahkan secara bijak.
“Seorang negarawan semestinya melakukan pembinaan terhadap kritik, bukan memosisikan pengkritik sebagai musuh,” ujarnya.
Dalam opininya, Martin menyinggung dinamika komunikasi antara Jusuf Kalla dengan sejumlah tokoh kritis seperti Ahmad Ali dan GN. Ia menilai ruang dialog tetap penting dibuka demi menjaga semangat persatuan nasional.
Martin juga mencontohkan gaya kepemimpinan Prabowo Subianto yang dinilai memiliki kemampuan merangkul berbagai kelompok, termasuk pihak yang sebelumnya berbeda pandangan politik.
Menurutnya, pendekatan dialogis dan semangat gotong royong merupakan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan politik nasional.
“Inisiatif mediasi dan komunikasi antartokoh seharusnya menjadi jalan memperkuat kebangsaan, bukan justru ditutup,” katanya.
Lebih lanjut, Martin menegaskan bahwa kepemimpinan nasional bukan hanya diukur dari lamanya seseorang berada dalam kekuasaan, tetapi dari kemampuannya menyatukan berbagai perbedaan di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai ruang bersama yang inklusif, serta bukan alat untuk memperuncing perbedaan politik.
- Dalam tulisannya, Martin turut merekomendasikan sejumlah literatur kebangsaan seperti Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno dan Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta sebagai bahan refleksi mengenai persatuan, demokrasi, dan moralitas politik nasional.






