Menjaga Rumah Kita: Sebuah Renungan tentang Persatuan

Minggu, 10 Mei 2026 - 14:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Martin Sembiring mengunjungi Taman Doa Bunda Maria Ratu sebagai refleksi nilai kasih, persaudaraan, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Martin Sembiring mengunjungi Taman Doa Bunda Maria Ratu sebagai refleksi nilai kasih, persaudaraan, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

MEDAN, BerswaraFakta.Com – Di tengah dunia yang terasa semakin gaduh, bangsa ini sesungguhnya sedang diuji: apakah kita masih mampu menjaga persaudaraan di atas segala perbedaan. Ketika kabar dari luar negeri membuat cemas, harga kebutuhan terus bergerak naik, dan media sosial dipenuhi pertentangan tanpa ujung, masyarakat perlahan dapat kehilangan rasa percaya satu sama lain. Inilah yang sering disebut sebagai “Galau Global”, sebuah kegelisahan zaman yang dapat mengikis kehangatan kehidupan berbangsa jika tidak disikapi dengan bijaksana.Minggu, 10 – 05 – 2026.

Menurut Martin Sembiring, jawaban atas kegelisahan itu sebenarnya sederhana: kembali menghidupkan semangat Persatuan Indonesia. Persatuan bukan hanya slogan yang diucapkan saat upacara atau seremoni kenegaraan, melainkan sikap hidup yang lahir dari kejujuran dan integritas.

Persatuan, menurut beliau, dimulai ketika pikiran, ucapan, dan tindakan berjalan dalam satu arah. Bangsa ini membutuhkan pribadi-pribadi yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga nyata dalam bekerja. Keteladanan semacam itulah yang akan melahirkan kepercayaan sosial dan memperkuat fondasi kebangsaan.

Lebih jauh, Martin Sembiring mengajak masyarakat untuk kembali mencintai sejarah bangsanya sendiri. Semangat itu juga sejalan dengan harapan putri-putri Proklamator Mohammad Hatta, yakni Meutia Hatta, Gemala Hatta, dan Halida Hatta, serta putri-putri Abdurrahman Wahid yaitu Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid yang terus mendorong generasi muda agar menjaga keberagaman dan memahami sejarah nasional.

Memahami sejarah berarti memahami jati diri bangsa. Indonesia dibangun oleh peradaban panjang yang sejak dahulu menjunjung persaudaraan lintas suku, budaya, dan keyakinan. Dengan mengenali sejarah itu, masyarakat akan memiliki rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan negeri.

Dalam kehidupan demokrasi, tentu perbedaan pandangan tidak dapat dihindari. Kritik yang disampaikan tokoh publik seperti Ade Armando maupun Grace Natalie dipandang Martin Sembiring sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan pribadi seseorang, melainkan sebagai pengingat agar kehidupan berbangsa tetap berada dalam koridor nilai-nilai Pancasila.

Ia menilai, kritik terhadap cara berpikir liberal yang berlebihan maupun sektarianisme yang sempit harus dipahami sebagai alarm sosial agar bangsa ini tidak kehilangan arah. Demokrasi membutuhkan ruang dialog yang dewasa, di mana perbedaan pendapat tidak berubah menjadi permusuhan.

Persatuan sejati justru lahir ketika masyarakat tetap mampu menjaga silaturahmi di tengah perbedaan pandangan. Mencintai tokoh bangsa bukan berarti menutup ruang kritik, dan menyampaikan kritik bukan berarti membenci bangsa sendiri. Dalam negara demokrasi, keduanya harus berjalan beriringan demi menjaga marwah kebangsaan.

Pada akhirnya, inti dari persatuan adalah kasih. Pesan damai yang disampaikan Kornelius Sipayung mengingatkan bahwa kekuatan terbesar bukanlah kekuasaan, melainkan kerendahan hati untuk membawa kedamaian bagi sesama. Kasih yang tulus akan melahirkan kepedulian, persaudaraan, dan keberanian untuk merangkul mereka yang terluka.

Di tengah berbagai kegelisahan dunia hari ini, bangsa Indonesia diharapkan tetap tenang dan tidak mudah terpecah. Dengan menjaga keselarasan antara kata dan tindakan, mencintai sejarah bangsa, serta membuka hati untuk saling menguatkan, Indonesia akan tetap menjadi rumah yang kokoh, harmonis, dan berdaulat bagi generasi mendatang.

Puisi: Persatuan Kekuatanku

Di tengah badai galau yang menderu,
Kucari jangkar di dalam kalbu,
Bukan kuasa, bukan pula seteru,
Hanya kasih-Mu yang menyatu.

Jujur berpikir, tulus berkata,
Nyata bekerja, hapus air mata,
Persatuan bukanlah sekadar kasta,
Ia adalah napas kedaulatan semesta.

Tanpa sekat, tanpa curiga,
Indonesia berdiri, tetap terjaga,
Karena di sini, di jiwa yang raga,
Persatuan adalah kekuatanku yang baka.

— Pamong Pancasila

(Ir. Martin Sembiring.ST.,MT)

Berita Terkait

Masyarakat Luat Unterudang Desak Satgas PKH dan Polda Sumut Tindak PT Barapala
Kedaulatan Infrastruktur Permukiman: Mewujudkan Standar Teknis dalam Penyerahan PSU kepada Pemerintah
Perjuangan Orang Tua Korban Penganiayaan Berbuah Manis, Hakim Tolak Praperadilan Tersangka
Paradoks Pendidik Gratis: Menggugat Kedaulatan di Tengah Hegemoni AI Liberal
Intimidasi dan Halangi Tugas Pers, Wartawan Batu Bara Siap Kepung Lapas Labuhan Ruku
Tokoh Senior Dinilai Perlu Rangkul Kritik Demi Persatuan Bangsa
Indonesia Dorong Kedaulatan Rupiah melalui LCT dan Panda Bonds
Menghentikan Kegaduhan Bangsa Menanggalkan “Pemandu” demi Mengikuti “Peta” Otoritas Negara
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:29 WIB

Masyarakat Luat Unterudang Desak Satgas PKH dan Polda Sumut Tindak PT Barapala

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:34 WIB

Kedaulatan Infrastruktur Permukiman: Mewujudkan Standar Teknis dalam Penyerahan PSU kepada Pemerintah

Senin, 11 Mei 2026 - 11:28 WIB

Paradoks Pendidik Gratis: Menggugat Kedaulatan di Tengah Hegemoni AI Liberal

Minggu, 10 Mei 2026 - 15:30 WIB

Intimidasi dan Halangi Tugas Pers, Wartawan Batu Bara Siap Kepung Lapas Labuhan Ruku

Minggu, 10 Mei 2026 - 14:57 WIB

Menjaga Rumah Kita: Sebuah Renungan tentang Persatuan

Berita Terbaru