Mengganyang Mafia Maritim, Wujudkan Poros Maritim Dunia untuk Rakyat

Senin, 4 Mei 2026 - 10:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas pelayaran di wilayah strategis Indonesia menunjukkan besarnya potensi ekonomi maritim yang masih terhambat oleh praktik mafia dan inefisiensi tata kelola.

Aktivitas pelayaran di wilayah strategis Indonesia menunjukkan besarnya potensi ekonomi maritim yang masih terhambat oleh praktik mafia dan inefisiensi tata kelola.

MEDAN, BerswaraFakta.com — Upaya mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia kembali mendapat sorotan tajam. Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2022 yang mempertegas peran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dinilai belum cukup kuat jika praktik mafia maritim masih dibiarkan tumbuh di perairan nasional, Senin, 04 April 2026.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa berbagai bentuk kejahatan laut, mulai dari pembajakan hingga praktik mafia logistik, masih terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Wilayah strategis seperti Selat Malaka menjadi contoh nyata bagaimana potensi ekonomi besar belum sepenuhnya dikelola secara optimal oleh negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ironi. Dengan luas laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi, kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih berkisar antara 2,5 hingga 2,7 persen dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, potensi ekonomi biru Indonesia diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah.

Kondisi ini mengindikasikan adanya kebocoran devisa serta lemahnya tata kelola yang diduga masih dipengaruhi oleh kepentingan kelompok tertentu. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor kelautan pun dinilai belum maksimal.

Di sisi lain, visi Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia terus didorong sebagai gerakan nasional. Seluruh elemen masyarakat diajak untuk tidak lagi memunggungi laut, melainkan menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan bersama.

Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu langkah strategis. Program Beasiswa Calon Pelaut Pertamina 2026 bagi mahasiswa D3 dan D4 dinilai sebagai peluang emas untuk mencetak generasi maritim yang kompeten dan berdaya saing.

Namun demikian, investasi pada SDM dinilai belum cukup jika tidak diiringi dengan pembenahan sistem. Struktur korporasi pelabuhan yang kompleks dan berlapis dinilai masih memicu inefisiensi biaya logistik yang berdampak pada ekonomi nasional.

Momentum Hari Pelaut Sedunia yang diperingati setiap 25 Juni juga dinilai perlu dijadikan sebagai pengingat pentingnya perlindungan terhadap pekerja maritim. Keamanan pelaut dari ancaman kriminalitas laut serta jaminan kesejahteraan menjadi bagian dari penghormatan terhadap profesi tersebut.

Sejumlah poin strategis pun mengemuka sebagai langkah perbaikan. Di antaranya adalah pembersihan jejaring mafia di jalur laut strategis, reformasi birokrasi sektor maritim untuk meningkatkan kontribusi terhadap PDB, serta efisiensi tata kelola pelabuhan.

Selain itu, kebijakan maritim juga diharapkan lebih berpihak kepada masyarakat kecil, khususnya nelayan tradisional dan pekerja pelabuhan, agar mereka tidak lagi menjadi penonton di tengah kekayaan laut Indonesia.

Dengan langkah yang terintegrasi antara penegakan hukum, reformasi sistem, dan penguatan SDM, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk benar-benar menjadi Poros Maritim Dunia yang berdaulat, mandiri, dan berkeadilan.


Penulis: Khairul Mahalli

(Martin Sembiring)

Berita Terkait

Martin Sembiring: Milenial Perlu Mengutamakan Damai Sejahtera daripada Sekadar Memenangi Perdebatan
Presiden, Jika Ingin Dikenang Sepanjang masa, Berantas Korupsi Tanpa Kompromi.
Indonesia di Persimpangan: Krisis Moral, Integritas, dan Kepercayaan Rakyat
Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai, Martin Sembiring Ajak Masyarakat Utamakan Perdamaian
Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik
Etika dan Protokol dalam Sidang Kabinet
Ketika Sejarah Menjadi Hakim Kepemimpinan: Artikel Opini Mengulas Fenomena Jokowi dalam Perspektif Pancasila
Arih Ersada: Filsafat Mediasi dari Tanah Karo yang Mendahului Zaman
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Martin Sembiring: Milenial Perlu Mengutamakan Damai Sejahtera daripada Sekadar Memenangi Perdebatan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 08:59 WIB

Presiden, Jika Ingin Dikenang Sepanjang masa, Berantas Korupsi Tanpa Kompromi.

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Indonesia di Persimpangan: Krisis Moral, Integritas, dan Kepercayaan Rakyat

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:17 WIB

Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai, Martin Sembiring Ajak Masyarakat Utamakan Perdamaian

Senin, 27 Juli 2026 - 08:10 WIB

Sinergi Lembaga Negara dan Media Massa Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik

Berita Terbaru